BEBERAPA tahun belakangan ini saya merasakan situasi sosial politik yang semakin membosankan, mungkin sampeyan-sampeyan juga mengalaminya. Pertarungan Jokowi vs Prabowo tak berhenti saat KPU RI menetapkan pasangan Jokowi-Kalla sebagai pemenang Pilpres pada 22 Juli 2014. Saat itu, berdasarkan penghitungan suara yang dikumpulkan di 33 provinsi, Jokowi-Kalla (JK) memenangi Pilpres. Ini setelah JK unggul 8.370.732 suara dari perolehan pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.

Meski pemenang telah didapatkan, namun situasi sosial politik tak kunjung mereda. Saling ejek antar pendukung di media sosial, saling menjelekkan antara “pemuja” yang satu dengan “pemuja” kubu lainnya membuat media sosial semacam “kotak sampah.”

Berbagai informasi yang tak jelas asal-usulnya, tak jelas kebenarannya dikonsumsi oleh masyarakat yang masih awam bermedia sosial. Situs-situs berita dengan nama yang aneh-aneh muncul secara dadakan, ada yang memanfaatkannya untuk melakukan provokasi. Namun, ada pula yang memanfaatkan ke-awaman warga yang baru bermedia sosial untuk mendapatkan keuntungan. Hal ini terindikasi dari google ads yang terkadang penuh terpasang di situs tersebut.

Alhasil, situasi semakin membuat jengah.

Puncaknya, “keplesetnya” Ahok dalam menafsirkan Al Maidah;51 membuat situasi sangat panas. Kubu “pemuja” Jokowi yang secara otomatis mendukung Ahok pun beramai-ramai ikut “jihad” berperang melawan kubu “pemuja” Prabowo yang mendukung Anies-Sandi.

Berbagai cara dilakukan. Dunia maya disesaki buzzer dan akun palsu yang bertugas di Facebook, Twitter, Instagram serta berbagai situs-situs berita ternama, untuk saling membalas opini dan counter isu.

Parahnya, lagi-lagi rakyat awam medsos pun menjadi terus terprovokasi dengan akun-akun palsu yang saling counter serangan.

Saya sendiri merasa beruntung, di tahun 2002 sudah mengenal Yahoo Messenger, mIRc, Friendster, 12Friend. Saat itu perangnya pengguna internet, mulai dari flooding, membobol billing warnet, hack akun teman dan lainnya, tanpa ada pertarungan agama, suku, ras, golongan. Hingga kini saya terbiasa mengcroscheck situs dan postingan, benar atau hanya hoax. Untuk diketahui, kini Facebook telah menyediakan hasil crosscheck atas sebuah informasi. Jika informasi tersebut salah, pada bagian bawah akan muncul referensi berita yang benar dari situs tepercaya.

Kembali lagi, ketika Pilkada DKI Jakarta sudah usai, ini ditandai dengan penetapan Anies-Sandi sebagai pemenang oleh KPU pada 5 Mei 2017 lalu. Namun pertarungan belum usai.

Seyogyanya pembangunan yang baik, yang dilakukan setiap pemimpin mendapat apresiasi, dukungan dari warga. Namun lantaran sentimen politik yang kian meruncing, apa pun yang dilakukan oleh salah satu kubu pun tetap tak dianggap. Bahkan cenderung dicari-cari kesalahannya.

Lucunya, jelang digelarnya Asean Games Tahun 2018 ini, Kali Item harus diupayakan untuk dihilangkan baunya. Pasalnya, para atlet dari berbagai negara akan menempati Wisma Atlet yang lokasinya bersebelahan dengan Kali Item. Kalau baunya tak hilang, bakal ditaruh di mana muka bangsa ini.

Yang membuat saya terpingkal-pingkal adalah ulah kelompok Pro Jokowi dan Pro Anies. Ketika Anies berupaya menutup Kali Item dengan memasang jaring, ini mendapat ejekan luar biasa, dibilang gobloklah, dibilang gaberner (plesetan gak bener,red). Sementara, kubu Pro Anies bilang kalau ini sudah bagian dari upaya.

Usaha Anies masih stagnan, ketika sedang mempelajari beberapa cara lain menangani Kali Item (mungkin), muncul statemen Pemprov DKI yang akan menertibkan pengrajin tempe, agar limbahnya tak semakin menimbulkan bau dengan menurunkan PD PAL agar mengelola limbah mereka. Hanya saja, judul berita yang “Meminta Pengrajin Tempe Setop Produksi” pun memicu berbagai komentar negatif. Padahal mungkin belum baca isi berita.

Bukan saya membela, tapi warasnya, limbah tempe yang semakin banyak menumpuk memang menimbulkan bau tak sedap dan namanya limbah, harus dikelola agar tak mencemari lingkungan, semuanya menyadari kewarasan itu.

Kembali ke Kali Item, Kementerian PU akhirnya membantu upaya Pemprov DKI mengurangi bau dengan menerjunkan mobil pompa air untuk mengalirkan air Kali Item agar terisi dengan aliran air yang baru, dengan demikian diharapkan endapan air kali Item yang bau akan berganti air yang lebih segar dan tak bau.

Namun lagi-lagi upaya ini menimbulkan komentar yang saling menyalahkan, ada yang bilang pemerintah pusat mengambil alih yang bukan bagiannya, ada yang bilang cuma disedot doang mana bisa ilang baunya, ada juga yang bilang ini bagus, Jokowi turun tangan karena Anies tak mampu.

Belum berhenti di situ, sekelompok warga akhirnya menaburkan 500 Kilogram DeoGone ke aliran Kali Item. Serbuk ini memang diperjualbelikan untuk menetralisir berbagai macam bau tak sedap. Namun upaya ini dianggap salah oleh kubu Pro Jokowi, mereka bilang hanya proyek, bakal sia-sia karena tak sesuai dengan volume air dan masih banyak lagi.

Di tengah-tengah ribut Kali Item, Anies melakukan penataan Jalan Sudirman dengan membangun taman rumput yang memisahkan antara halte dan jalan aspal tempat bis berhenti. Jaraknya kira-kira hanya tiga meter.

Wah ini pun ramai diperbincangkan. Saya jadi mikir, obrolan mereka nggak penting-penting banget tapi bikin kisruh suasana, ribut di medsos, bikin yang lain terprovokasi. Padahal ya, kita di dusun ini, jalan kaki berkilo-kilo biasa saja, mana jalan tanah semua.

Melihat situasi ini, saya pernah ikut nimbrung komentar di sebuah postingan fanspage situs berita ternama, “Kalau sehat, Jokowi sama Anies itu ketemu, bawa staf masing-masing, obrolin gimana solusinya buat menghilangkan bau Kali Item. Ini bukan hajat satu dua orang, ini hajat negara. Dengan begitu bakal meredam kenyinyiran para pemuja. Ini malah saling salah menyalahkan seolah-olah bukan hajat negara.

Tapi komentar saya tidak ada yang menanggapi, hanya mendapat jempol sekitar 6 orang. Bahkan akun-akun palsu tetap bekerja dengan provokasi dan propagandanya.

Semakin ke sini, jelang Pilpres 2019, situasi sosial politik dan hukum secara luas semakin menakutkan. Komentar-komentar saling salah menyalahkan, saling menyerang semakin intens, bahkan pada tokoh-tokoh yang akan diusulkan jadi cawapres pun kena semprotan.

Semakin ke sini, banyak tokoh “kuat” yang masuk ke ranah-ranah yang semestinya tak terpengaruhi politik. Atau mungkin ini hanya perasaan saya saja.

Namun pada akhirnya saya sedikit lega, Jokowi dan Anies akhirnya bersama-sama mengunjungi proyek trotoar dan Jusuf Kalla mengunjungi Kali Item.

Tapi tetap saja, Jokowi tak pernah benar, masih ada komentar, Jokowi hanya melihat ketika sudah selesai, penanganan Kementerian PU tidak maksimal.

Tapi tetap saja, Anies selalu salah, dianggap tak becus sampai pemerintah pusat harus turun tangan.

DAN sampeyan memang selalu benar!