JUMAT, 10 AGUSTUS 2018
Saya    : “Halo… Kemarin kok hilang facebooknya?”
Dia       : “Hahah memang begitu, kalau lagi ngga main, facebooknya aku nonaktifkan. Soale fotoku sering dicuri orang dijadikan akun palsu,” katanya.
Berasa ngobrol sama seleb nih saya hahahah

Itu tadi sekelumit cerita pembuka dengan seseorang yang postingan-postingannya di facebook suka bikin saya kadang senyum-senyum sendiri, geli sendiri, dan tak jarang sangat menyentuh.

Apalagi, suatu hari dia pernah bercerita tentang kisahnya yang tak pernah bertemu sang ayah. Hingga dalam beribu harap pencariannya, Ia mendapat kabar, bahwa ayahnya sudah lama meninggal. Namun, ini tak menyurutkan langkahnya untuk tetap “menemui” sang ayah, meski hanya berhadapan dengan gundukan tanah.

Dan suatu hari, teman facebookku ini memosting sebuah kisah tentang teman kantornya.

“Saya mau cerita tentang teman saya di kantor. Nama beliau ini Pak Suwarso. Kami biasa memanggilnya Pakde Warso.

Saya ingat beberapa tahun yang lalu istrinya terkena stroke hingga menjadi lumpuh. Sejak saat itu, setiap hari beliau membawa istrinya ke kantor, belum ada kursi roda, jadi istrinya digendong ke mana-mana.

Ketika selesai apel pagi, istrinya diajak berjemur, disuapin makan.

Kalau lagi nggak ada kerjaan, Pakde Warso melatih istrinya berjalan.

Kalau sedang sibuk kerja, Pakde meminta tolong pada kami untuk menemani istrinya, atau terkadang istrinya didudukkan di sebelahnya.

Tidak pernah kulihat wajah lelah dan masam. Pakde selalu tersenyum manis pada semua orang.

Hingga suatu hari, saya pernah bertanya, kenapa Pakde tidak izin saja dan merawat istrinya di rumah? Teman-teman yang lain pasti maklum kok.

Pakde menjawab, di hati saya masih ada rasa tidak bertanggung jawab kepada negara kalau tidak masuk kantor.

Pakde Warso bertanggung jawab kepada negara, sekaligus bertanggung jawab kepada keluarga. Luar biasa.

Sekarang, istrinya sudah sehat dan bisa beraktivitas.

Kemarin kutanya, Ibu sudah bisa apa saja, kata Pakde, sudah bisa nyuci dan jemur kain. Alhamdulillah”

Dan hari ini, tepatnya tadi sore. Saya bermaksud meminta teman saya itu bercerita tentang Pakde Warso secara detil, saya ingin menceritakan perjalanan Pakde Warso dalam sebuah tulisan.

Tapi jujur saja, saya suka malu dan nggak PeDe, takut kalau nanti gara-gara tulisan saya, kisah Pakde Warso malah jadi tak menarik.

Lantaran itulah, saya meminta agar dia saja yang menulis ceritanya. Bukan tanpa alasan, semua tulisan di postingan facebooknya bagus, kalau bercerita suka “ngena.”

Dia pun setuju. Lalu terungkap jika sebenarnya dia hobi menulis, bahkan ketika SMP, cerpen-cerpennya suka difotokopi oleh teman-temannya.

Pantes tulisannya bagus, dari SMP sudah hobi bikin cerpen.

“Eh kemarin aku ketemu Pakde Warso di Toko Elektronik, dia mau belikan istrinya kulkas. Istrinya nunjuk kulkas yang kecil, tapi Pakde Warso bilang jangan. Dia minta istrinya untuk beli kulkas yang lebih besar, kalau kecil kurang adem katanya. Aku suka melihat mereka, apalagi pakde itu sayang banget sama istrinya, bikin terharu,”

Saya jadi tidak sabar untuk membaca kisah hidup Pakde Warso, Suami dari Surga.

Bagaimana dengan sampeyan? Apa punya cita-cita pengen sama-sama sampai surga? Selamat Jumat, kisanak!