KETIKA sepasang kekasih yang tiba-tiba terbentur perbedaan pendapat. Mungkin cukup prinsip. Tapi salah satunya salah paham dan tidak meminta penjelasan, bahkan salah satu kekhawatiran yang ditunjukkan dengan serius pun disalahartikan. Hingga berujung keluhan-keluhan di media sosial.

Lagi-lagi ini soal pentingnya komunikasi.

Prihatin melihat hal ini, bukan tentang keingintahuan. Tapi ini saya pikir dampak sosial media yang begitu terbuka dan menjadi tempat bebas berekspresi, yang terkadang penggunanya kebablasan.

Bagaimana bisa kebablasan? Persoalan yang semestinya selesai dengan membicarakannya baik-baik dari hati ke hati justru merembet menjadi persoalan semua orang yang menjadi follower maupun dalam lingkaran pertemanan di medsos.

Semisal kasus di Twitter, si cewe mengungkapkan kekecewaan, demi kekecewaan yang dirasakannya dengan sindiran-sindiran tanpa mention, sementara si cowo memilih diam dan hanya sesekali memberikan penjelasan, pun tanpa mention.

Pertanyaannya, kenapa dilakukan melalui medsos? apakah tidak ada ruang lain. Apakah tak ada lagi ranah pribadi di antara mereka? atau justru memang si cewe suka mengumbar semua persoalan pribadi melalui medsos?

Akhirnya saya mencoba mencari tahu di Twitter dengan kata kunci “ranah pribadi” hasilnya mengejutkan. Banyak sekali twit yang mengatakan ketidaksetujuannya pada persoalan pribadi yang dibawa-bawa ke ranah publik.

Saya jadi ingat sebuah Hadist :s
“Dari Abu Sa’id al-Kudriy, ia berkata, Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya manusia yang paling jelek kedudukannya di hari kiamat adalah seorang laki-laki (suami) yang bercampur (bersetubuh) dengan isterinya, kemudian membeberkan rahasia (isteri)-nya tersebut.” (HR. Muslim)

Dari hadist ini setidaknya ada makna tersirat yang bukan hanya pada persoalan seksual antara suami istri semata yang tak boleh diumbar. Namun juga persoalan-persoalan lain dalam berumah tangga.

Soal, konsep berpacaran mungkin banyak yang menentang, tapi di sini saya tidak ingin memperdebatkannya.

Berpacaran sehat dengan target menikah, mungkin bisa dimulai dengan menyelesaikan persoalan-persoalan yang timbul antar keduanya secara sehat pula. Tidak membawa persoalan ke ruang publik, membicarakannya berdua, atau membiarkan agar dingin semuanya, baru kemudian membahasnya bersama.

Bukan justru secara tiba-tiba menumpahkannya di media sosial yang bisa saja mengajak pihak-pihak yang tidak suka untuk ikut masuk dalam persoalan tersebut.

Bahkan, ada “orang ketiga” yang masuk dalam persoalan di atas, justru datang dari beberapa lelaki yang tak berani melakukan mention langsung, malah ikut melakukan sindiran-sindiran melalui twit-twitnya.

Lalu apa urusannya memasuki ranah persoalan pasangan orang lain? Atau jangan-jangan itu sudah menjadi kebiasaannya, saya pikir tidak sehat jika tak diminta. Pun di ranah publik semestinya tak sepatutnya mendengarkan dari satu pihak saja, jika ini memang berniat baik untuk ikut memperbaiki, bukan malah menyalahkan salah satu pihak.

Medsos terlalu tabu untuk menjadi tempat penyelesaian persoalan pribadi, kecuali melalui pesan. Tapi, banyak orang yang tak menyadari ketika menumpahkan semua persoalan di media sosial justru malah memancing orang lain untuk tahu persoalan yang semestinya hanya diketahui berdua.

Ada banyak hal nyata yang bisa dilakukan, misalnya bertemu dan membicarakannya baik-baik, atau mungkin menelepon.

Tapi biasanya, jika sudah terlanjur masuk ke ranah publik, beberapa orang memilih untuk tidak lagi memperbaikinya, bagi orang-orang yang sangat menghargai privacy, kesalahan ini sudah sangat fatal.

Baiklah, “Jagalah aib pasanganmu seperti kamu menjaga rahasia terbesarmu sendiri yang kamu berharap hanya kamu dan Rabb-mulah yang mengetahui.”

Atau kisanak ingin mengumbarnya?