“Kak, Tante Titin meninggal,” suara di seberang telepon mengabariku.

Innalillahi wa inna ilaihi roji’un.

RABU, 29 Agustus 2018, pukul 22.00 WIB adalah waktu terakhir Tante Titin berada di alam fana, alam kematian dan Ia memasuki alam kehidupan yang sejati.

Sejak setahun terakhir memang semua terlihat sangat payah, setelah kanker payudara menggerogoti tubuhnya, Ia sempat mendapatkan pengobatan terbaik di Jakarta. Lalu sembuh, tubuhnya kembali terlihat berisi dan mulai ceria. Hingga melanjutkan bekerja lagi sebagai abdi negara.

Aku ingat betul, ketika masih sehat dulu, jika ada sesuatu, Ia memanggilku dari bawah batang mangga depan rumahnya. Mereka tetangga, sekaligus orangtua yang baik, tak pernah mempersoalkan hal-hal kecil.

Malah pagar pembatas antara rumah kami dan rumahnya dirobohkan. Ia percaya betul, kami tak akan mengambil sejengkal pun batas tanah pekarangan.

Selain bunga-bunga, di halaman depan rumahnya, Ia sering menanam pohon pepaya, mangga dan terkadang sayuran. Jika buahnya mulai masak, Ia tak segan-segan memanggil kami untuk memetiknya. Entah, sampai sekarang aku juga tidak tahu pasti, apakah dia memang tak suka pepaya? Sebab, seringkali pepaya masak, dia menyuruh kami untuk memetik dan membawa pulang.

“Udah bawa balik ajo. Kek tante kelak malah mubazir dak temakan,” katanya.

Demikian juga ketika pohon mangga depan rumah mulai berbuah. Buahnya lebat.

“Kapan ndak, ambik ajo,” katanya saat menawarkan mangga yang buahnya besar-besar.

Suaminya juga begitu, Om Thamrin, dulu dia bekerja di bank, hingga memasuki masa pensiun. Orang pendiam, bukan tipe laki-laki pencerita. Jika ditanya baru berbicara. Perlakuannya pada kami sama saja dengan istrinya. Selalu baik.

***

Hari ini, Kamis, 30 Agustus 2018. Setelah menunggu anak dan menantunya yang bekerja di Jakarta tiba di rumah, jenazah tante langsung dibawa ke masjid untuk disholatkan.

Aku melihat wajah tegar Om dan anak-anaknya. Pascastroke menyerang tante, om dan anak-anak hingga menantunya memang sudah mengupayakan berbagai jalan untuk kembali sembuh. Namun ajal memang sebuah kepastian, tak dapat dimajukan, tak dapat dimundurkan. Jika tiba waktunya, semua yang bernyawa pasti mengalaminya. Tak dapat ditawar, tak dapat ditolak.

***

Usai sudah proses pemakaman. Om Thamrin, anak-anaknya dan saudara lain mengelilingi gundukan tanah. Melafazkan doa. Om memilih agak jauh dari tanah yang masih basah itu.

Sejak tiba di makam, kuperhatikan, memang ia tak mau melihat tante dimasukkan ke dalam liang. Dan aku hanya membatin, mungkin saja aku akan mengalami hal ini. Kecuali jika aku yang mati duluan, maka tak akan mengalaminya.

Perasaannya pasti tak karuan, sejak tante sakit, Om tak pernah meninggalkannya. terus mengurusi tante, tidak berhenti mencari sembuh.

Ia terus mengupayakan, agar bisa sama-sama melihat anak-anaknya bahagia. Sama-sama bermain dengan cucu mereka yang sudah dua.

Kini dia ditinggal teman hidupnya. Lalu dengan siapa akan menimang cucu? Dengan siapa bercerita tentang anak-anak yang sudah dewasa?

Pasti sesak rasanya.

Tidak lama, ketika anak dan saudaranya masih menghadap gundukan tanah, Om Thamrin memilih beranjak duluan, berjalan linglung. Aku mendekat, menggamit pundaknya. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Kubisikkan kata sabar.

Aku tahu, kata-kata ini tidak akan mampu meredam dukanya saat ini, tidak akan mampu mengobati rasa kehilangannya.

Ketika seseorang mengajakku berbicara, aku membiarkannya berjalan sendirian, tapi aku tetap memperhatikan.

Pada saat-saat seperti ini, aku yakin dia tidak akan memperlihatkan duka pada anak-anaknya. Ia tahu, anak-anak pun kehilangan.

Aku mendekatinya lagi ketika melihatnya sempoyongan. Kiri kanan jalan menuju kuburan adalah sawah, ada pula kolam. Khawatir akan tak sadarkan diri, aku segera menghampiri dan menggamit pundaknya lagi.

Matanya berair lalu sesenggukan. Kehilangan betul. Pedih sekali.

“Yang kuat, Om. Tante tahu bagaimana perjuangan Om. Ini lebih baik. Lagi pula, tak ada yang mampu menghentikan ketentuan Allah,” kataku.

Lalu sepanjang jalan pulang dari kuburan, aku hanya diam. Mungkin membiarkannya menangis adalah cara terbaik. Alfatihah

***

Bagaimana dengan cintamu?