“Mas, kamu mau naik pesawat lagi?”
“Iya, Key. Kenapa?”
“Nggak apa-apa, cuma suka khawatir saja.”
Key memang tahu, aku suka was-was sendiri kalau naik pesawat. Getar sedikit saja sudah dag dig dug.


SEBENARNYA naik pesawat terbang selalu membuat saya cemas. Apalagi, terbaru diajak manajemen Lion Air untuk menjajal rute baru penerbangan Wings Air dari Bengkulu ke Mukomuko, nah tak lama setelah itu terdengar kabar pesawat Lion Air JT 610 jatuh.

Tapi ajakan Dinas Pariwisata Palembang dan Asita Sumsel untuk datang, merasakan sensasi menginap dan berolahraga di Jakabaring Sport City, membuat saya nekat untuk melakukannya lagi.

Meski jadwal keberangkatan yang memungkinkan adalah malam hari, sementara cuaca di bulan November sedang sering tak bersahabat ketika sore menjelang. Saya tetap berangkat ke Musi and Beyond Travel Fair (MBTF) 2018.


Lampu darurat 2 kali dinyalakan

Saya berangkat dengan jadwal keberangkatan pukul 18.30 WIB dari Bandara Fatmawati Bengkulu. Ketika tiba di bandara, semula cuaca masih lumayan cerah, meski memang mendung sudah terlihat. Namun setengah jam di ruang tunggu rupanya sudah cukup untuk membuat mendung kompakan menurunkan gerimis.

Saya bersama penumpang lain, berjalan menuju pesawat dibarengi dengan rintik hujan. Kilatan-kilatan petir juga terlihat beberapa kali di sebelah barat.

Ketika mencoba rute baru Wings Air, saya sudah merasakan dua kursi yang berbeda, yang pertama di seat 16A, lalu yang kedua di seat 1B. Karena merasa nyaman di seat 16A, sebelum keberangkatan ke Palembang saya sudah blocking seat di kursi ini.

Awalnya merasa beruntung duduk sendiri, sebab seat 16B tidak diisi penumpang. Namun situasi berubah, ketika 20 menit penerbangan, tiba-tiba pesawat mulai bergetar seperti mobil ketika melewati jalan berlubang. Tak lama, terdengar suara pramugari yang akan memadamkan lampu kabin.

Duh! Di sini jantung mulai berpacu. Saya berdoa dalam hati. Ya, membaca sebanyak-banyaknya dan sebisa-bisanya doa. Lalu situasi mulai mereda, dan lampu kabin kembali dinyalakan.

Namun ini tak berlangsung lama, sekitar 10 menit kemudian kabin terasa kembali bergetar. Pramugari kembali memberitahukan akan mematikan lampu kabin lantaran cuaca yang tak bersahabat.

Ketika melirik ke kursi 16C-D di seberang, terlihat remang-remang dua bapak-bapak yang mulai berdoa. Saya agak geli, ternyata mereka ketakutan, tapi saya sendiri juga cemas.

Dalam situasi seperti ini, saya merasakan penyesalan mendalam. Kenapa milih naik pesawat sih? Kenapa tidak naik bus saja atau perjalanan darat lainnya? Bertubi-tubi pikiran seperti itu.

Alhamdulillah-nya, pilot sudah menguasai keadaan dan pesawat terbang dengan normal lagi. Semakin leganya, ketika mulai lampu-lampu di daratan yang awalnya tertutup mendung, kemudian mulai terlihat dengan jelas.


Mendarat dengan guncangan keras

Ketika melewati daratan dengan lampu yang sangat luas, saya meyakini telah tiba di atas langit Kota Palembang. Benar saja, tak lama pramugrai memberitahu untuk kembali memasang sabuk pengaman, melipat meja baca dan menegakkan sandaran kursi. Ini lantaran pesawat sebentar lagi akan mendarat. Terasa pesawat berbelok dan mengambil jalur pendaratan.

Saya kembali merasa cemas. Pasalnya, pada saat mulai menurunkan ketinggian, sangat terasa hempasannya. Semua penumpang berteriak. Saya tidak, tapi jantung saya berdegup kencang. Dan ini beberapa kali.

Parahnya lagi, ketika mendekati landasan, badan pesawat terombang-ambing, penumpang lain terdengar mulai berdoa dengan keras. Saya memegang erat sabuk pengaman.

Dan pendaratan pesawat pun berlangsung dramatis. Kelegaan saya ketika terasa roda pesawat menyentuh runway.

Dalam hati, saya hanya mbathin, kalaupun pendaratan ini nanti tak sukses, misalnya tergelincir, setidaknya sudah di daratan.

Badai melanda bandara

Setelah pesawat terparkir sempurna, saya segera berdiri mengambil tas dan segera mengambil antrean keluar. Ketika pintu pesawat terbuka dan kami berhasil keluar, apa dikata, badan saya seperti limbung. Angin bertiup kencang, saya segera memacu langkah menuju bangunan bandara.

Tak lama kemudian, terdengar suara berjatuhan. Ya beberapa kotak sampah warna-warni yang terpasang di sekitaran bandara beterbangan diterpa angin kencang.

Saya baru sadar, beruntung pesawat yang saya naiki tadi dipiloti orang berpengalaman, dalam kondisi badai yang sedemikian kencang, dia masih bisa menerbangkan dan mendaratkan pesawat dengan baik.

Hai Palembang, aku datang

Dalam perjalanan menuju pintu keluar, saya segera mematikan mode flight ponsel. Setelah saya cek, ada 2 panggilan masuk sebelumnya. Lalu saya menghubungi kembali nomor itu, yang ternyata berasal dari Panitia MBTF 2018.

Mereka mengarahkan saya untuk menuju Tourism Information Center di sisi kanan pintu keluar. Sesampainya di sana, saya senang bercampur sisa-sisa kecemasan. Palembang, saya sampai nih!



Kisanak, engkau harus mencobanya. Tiba di Palembang dengan penuh tantangan!