SETIBANYA di Kota Palembang, saya disambut dengan baik. Tak lama, salah satu teman blogger yang lain pun tiba. Di bawah rintik hujan yang mulai deras, kami diajak Panitia Musi and Beyond Travel Fair (MBTF) 2018 menuju ke Rumah Dinas Walikota Palembang untuk mengikuti welcome dinner. Lalu ke Jakabaring Sport City (JSC), tempat kami akan menginap semalam. Ya, kami akan menginap layaknya atlet olahraga, di sebuah kompleks dengan sarana olahraga terlengkap dan terbaik di Indonesia.

Di Rumdin Walikota Palembang kami mendapat sambutan yang menyenangkan, semua orang tersenyum hangat. Bahkan, panitia yang menjemput kami langsung mengantarkan kami untuk bertemu M Erfandi, Staf Bidang Pemasaran Pariwisata Kota Palembang yang konsen mengurusi kegiatan ini.

Dari Bang Erfandi, kami diajak untuk makan, bertemu dan berkenalan dengan yang lain. Termasuk dipersilakan untuk ikut menyumbang lagu. Kalau mau. Mereka begitu ramah dan memberikan kami kesan pertama yang menyenangkan.

Sekitar pukul 21.00 WIB kami menaiki bus yang telah disiapkan untuk menuju Jakabaring. Pemandu dari Dinas Pariwisata, saat itu juga sudah mulai memberikan beberapa clue tentang Jakabaring Sport City. Selain begitu menarik, rasa lelah pun membuat kami merasa tak sabar untuk segera tiba.

Setibanya di Wisma Atlet dalam Kompleks JSC, kami melakukan registrasi ulang, mengisi absensi dan membaca petunjuk kamar yang ditempati.


Wisma Atlet di JSC Sangat Luas

Kompleks Wisma Atlet ini mampu menampung 12.000 orang. Di setiap kamar terdapat 4 kamar tidur, 4 lemari pakaian, 1 unit kulkas. Di bagian belakang, dipisahkan oleh pintu, terdapat wastafel, 1 kamar mandi shower lengkap dengan pemanas air dan satu toilet.

Ketika menempati kamar nomer 207 di lantai 2, saya sekamar dengan Whidi Kusuma, manajer Mekar Trans Yogyakarta, Uda Syahril pemilik Hidayah Tour and Travel di Sumatera Barat dan Pandu Aji, blogger panduaji.net asal Blitar, Surabaya.

Setelah berkenalan, awalnya kami bertiga masih menggunakan bahasa Indonesia, tapi dalam beberapa percakapan saya menggunakan bahasa Jawa, dan seketika suasana menjadi tak lagi formil. Semua mengalir dan lebih terasa menyenangkan.

Kami berempat memperhatikan setiap sudut kamar. Fasilitasnya yang sangat lengkap, mulai dari kulkas, lampu baca, meja untuk mengobrol, 4 lemari, colokan di setiap sisi tempat tidur, jangan panik, ada AC-nya kok. Semua seperti fasilitas penginapan, ada sabun di wastafel, ada sikat gigi yang masih terbungkus dan di balkon ada sebuah tempat jemuran handuk/baju berukuran sedang.


Bertemu travel agent Singapura dan Malaysia

Ketika di dalam kamar, saya perhatikan hanya saya sendiri yang menenteng bungkusan tembakau. Uda Syahril, Pandu dan Widhi tak merokok. Maka lantaran sejak turun dari pesawat belum merokok, saya pun keluar kamar dan mencari tempat untuk satu atau dua hisap.

Saat keluar kamar dan melihat ke lantai bawah, saya melihat di lima orang travel agent dari Singapura dan Malaysia sedang asyik mengobrol sambil merokok. Lega, akhirnya, ada teman seperjuangan.

Saya turun, nimbrung di kursi dan sok akrab mendengarkan apa yang mereka obrolkan, meski terkadang saya tak paham. Sebab, bahasa mereka itu campur aduk, ada melayunya, ada Inggrisnya, ada Indonesianya dan sesekali ada mandarin. Entahlah.

Saya menawarkan pada Razan, untuk mencicipi gudang garam. Dia adalah salah satu travel agent dari Malaysia yang sudah saya kenal sejak di bus. Kami satu kursi, kami berbicara banyak di bus dan dia memberikan kartu nama.

“Kalau kamu ke Malaysia, kamu WA saya,” katanya waktu itu.


Jakabaring cocok untuk wisata olahraga

Jumat pagi, panitia MBTF telah menyiapkan agenda untuk kami melihat langsung berbagai venue olahraga di komplek seluas kurang lebih 300-an hektar ini. Kebayang kan gimana gempornya kalau jalan kaki.

Pihak JSC sudah menyiapkan untuk kami sekitar 8 buah shutlebus, semacam gerobak listrik yang dipakai di lapangan-lapangan golf atau biasa terlihat di Istana Negara untuk mengajak berkeliling tamu negara.

Pertama kami mengunjungi venue bowling. Untuk diketahui, venue ini merupakan yang terbaik kedua di dunia. Artinya memiliki standar dengan kualitas terbaik di Indonesia. Sayangnya ketika kami tiba di lokasi ini, venue sedang dalam perbaikan setelah diterjang angin puting beliung yang melanda kompleks JSC.

Kabar baiknya, bagi anda penggemar olahraga bowling, venue ini sudah dibuka untuk publik. Artinya, anda bisa mengajak tim untuk menginap di Wisma Atlet dan paginya bertanding atau berlatih bowling di venue ini.

Ohya, saya belum kasih tahu. Seiring dengan dibukanya beberapa venue untuk publik, Wisma Atlet pun mulai dibuka untuk menjadi tempat menginap bagi kalian penggemar olahraga agar bisa bersama tim berlatih atau bertanding di berbagai venue.


Tempat kedua yang kami sambangi adalah arena shooting range. Ada sekitar 3 venue lapangan tembak. Semuanya megah. Venue ini pun kini dibuka untuk publik. So, jangan ragu kalau kalian mau menjajal kemampuan menembak dengan standar internasional, tempat ini cocok untuk kalian adu kebolehan.

Persis di depan venue shooting range, terdapat sebuah danau buatan yang digunakan untuk olahraga dayung. Danaunya sangat luas, airnya jernih, di sekitarannya pun dipenuhi dengan pepohonan yang rindang. Menjadi tempat yang pas untuk melepas lelah seusai berolahraga.


Selanjutnya ada venue tenis lapangan. Untuk yang satu ini tidak perlu lagi dipertanyakan, jika melihat pertandingan kelas internasional di berbagai televisi, nah begitulah venue ini. Semuanya tertata rapi dan benar-benar dibangun dengan tidak asal-asalan.

Mau menjajal kebolehan, bertanding atau sekedar berlatih. Tempat ini boleh kalian gunakan.


Tak hanya sampai di situ. Tapi sebenarnya saya sudah mulai lelah. Semuanya sangat luas. Jarak antar venue yang sudah kami lihat tadi cukup jauh. Maka, menggunakan shutlebus adalah satu-satunya cara agar bisa menjangkau berbagai venue dengan cepat.

Di bawah panasnya matahari yang mulai meninggi. Kami diajak mengunjungi Stadion Gelora Sriwijaya.

Stadion ini terbesar ketiga di Indonesia setelah Stadion Gelora Bung Karno dan Stadion Utama Palaran. Sebagai salah satu stadion terbaik berstandar internasional, ketika memasuki stadion dan sebelum sampai di lapangan terbuka, kita akan disuguhkan berbagai pemandangan interior yang menawan.

Yakinlah, jika kalian membawa tim untuk berlatih di lokasi ini, bakal merasakan yang namanya, nyaman dan menyenangkan. Kondisi rumputnya masih terpelihara dengan baik.

Dari keterangan Bang Erfandi, perawatan Kompleks Jakabaring Sport City terus dianggarkan oleh pemerintah setempat, senilai Rp 2 miliar per bulan. Meski sedang tidak ada event apa pun.


Venue terakhir yang sanggup kami datangi adalah venue voli pantai. Venue ini sebenarnya terdekat dengan lokasi Wisma Atlet, namun tadinya kami lewati lantaran melihat yang jauh-jauh terlebih dahulu.

Venue voli pantai, menggunakan pasir terbaik. Pasir yang didatangkan secara khusus dari Pulau Bangka ini memiliki standar internasional.

Kami sudah mencobanya. Di tengah terik panas matahari yang menyengat, pasir di lapangan voli pantai sama sekali tidak terasa panas. Tetap terasa adem. Aneh, tapi ya begitu adanya. Jadi selepas terik matahari, jika tim kalian bermain di lapangan ini, bakal tidak ada rasa panas sedikitpun.


Ajak tim kalian menginap di JSC

Setelah gelaran PON dan Asian Games tuntas dilaksanakan. Kini Jakabaring Sport City mulai dibuka untuk publik dan dijadikan Sport Tourism Center (Pusat Wisata Olahraga). Meski ada beberapa venue yang memang belum dibuka, namun dari seluruh venue yang kami kunjungi, itu sudah dibuka untuk publik. Ada tambahan lagi, venue wall climbing atau panjat tebing dengan standar terbaik di Asia, pun dibuka untuk publik.

Sayangnya ketika saya menanyakan harga paket bermain di berbagai venue, Bang Erfandi masih belum bisa menyebutkan lantaran masih dalam proses penyusunan. Namun yang pasti, semua sudah bisa dicoba sembari menunggu harga resmi yang akan dikeluarkan oleh manajemen JSC.

Satu hal yang pasti, untuk menginap di Wisma Atlet, per kamar akan dikenakan Rp 400 ribuan. Kamu boleh menginap ala backpacker, satu kamar diisi orang delapan buat ngirit ongkos. Jadi cukup iuran Rp 50 ribu, kamu sudah bisa menginap ala atlet dan menjajal sarana olahraga terbaik berstandar internasional bersama tim kalian.

Saya beritahu, kami kepanasan sebenarnya karena lebay, semuanya dikelilingi termasuk jalan-jalan tanpa peneduh jadi tempat foto. Padahal kalau mau anteng, seluruh venue memiliki taman dan pepohonan nan rindang.

Kisanak mau sensasi panjat tebing terbaik? Datanglah ke Jakabaring Sport City!