Pagi Sabtu, 1 Desember 2018, pukul 04.25 WIB saya sedikit bingung. Sebelum-sebelumnya, setiap penerbangan pagi saya selalu diantar teman atau ada transportasi yang disediakan untuk mengantar ke bandara. Tapi tidak dengan kali ini, saya belum janjian atau minta tolong teman untuk mengantar.Β Alhasil setelah telepon sana sini, saya akhirnya diantar sopir Grab, dengan sedikit drama cari-cari lokasi penginapan.


APA benar, naik pesawat terkadang membuat orang trauma? Kok bisa?

Padahal, sampai hari ini pesawat terbang adalah alat transportasi teraman dan paling sedikit kecelakaan di dunia. Dibandingkan dengan kecelakaan pada lalu lintas darat, jumlah kecelakaan pesawat hanya nol koma sekian persennya. Dan meski terkadang cemas, saat ini saya merasa tenang setelah melihat proses bagaimana pilot dan awak kabin menjalankan prosedur penerbangan dengan penuh ketelitian dan kedisiplinan.

Penerbangan kali ini saya menaiki Lion Air, dengan jadwal keberangkatan pukul 06.10 WIB dari Bandara Fatmawati Bengkulu menuju Bandara Soekarno Hatta.


Petugas check in yang ramah

Segera setelah print tiket, lalu masuk dan menemui petugas di check in counter. Sempat saya fotoin, membuat mbak-mbak yang bertugas di sana senyum-senyum. Saya pikir, harus membuatkan status untuk keramahannya.

Apalagi ketika pagi-pagi sudah tersenyum riang melayani penumpang, yang belum tentu mandi.

Beruntung kali ini duduk di seat 1C dalam pesawat Boeing 737-900ER milik Lion Air ini. Pasalnya, pesawat jenis ini memiliki interior yang lapang dan dilengkapi dengan panel pencahayaan berwarna softblue dan warna cahaya matahari terbenam sehingga membuat nyaman di mata.

Tak hanya itu, pesawat ini telah mendapat peningkatan pada keamanan dari seri sebelumnya, berikut dengan pengurangan tingkat kebisingan sehingga memberikan suasana kabin pesawat yang lebih tenang.

Begitu memasuki kabin pesawat melalui pintu depan, saya langsung saja duduk. Tak dinyana, saya bersebelahan dengan seorang anggota DPRD Provinsi Bengkulu. Saya tahu karena sudah sangat familiar dengan wajahnya yang memang bertebaran di mana-mana.


Awak kabin jalankan prosedur

Bingung mau memulai pembicaraan dengan anggota dewan yang duduk di sebelah, akhirnya saya diam saja. Sampai akhirnya, awak kabin memanggil dan mengajak saya berbincang sejenak. Hingga membuat anggota dewan ini penasaran.

“Ada apa?” katanya.
“Oh nggak ada apa-apa, Pak. Hanya nanya-nanya dikit,” kujawab begitu.

Padahal, ketika masuk ke kabin tadi saya sudah langsung berbincang dengan salah satu kru dan meminta izin untuk mengambil beberapa foto dan video di dalam kabin. Mereka mengizinkan.

  • Jangan sembarangan melakukannya, ini saya dapatkan karena sudah mengantongi izin resmi dari otoritas Lion Air.

Di sisi lain, masih terlihat pramugari dengan sigap memastikan seluruh barang bawaan penumpang masuk ke dalam bagasi dan penutup bagasi tertutup rapat.

Tak lama pintu ditutup oleh pramugari, terlihat tangannya meraba seluruh bagian pintu pesawat. Baik itu pintu depan maupun pintu belakang. Saya hanya melihat, belum tahu apa maksudnya.

Seperti biasa, selanjutnya pramugari menjalankan berbagai prosedur petunjuk keselamatan atau safety demonstration bagi penumpang sebelum melakukan penerbangan.

Hingga take off dan lampu peringatan penggunaan sabuk pengaman dipadamkan, saya kembali menemui awak kabin di bagian depan pesawat yang dipisahkan oleh tirai dengan kabin penumpang.

Kami berbincang banyak, salah satunya soal rabaan pada pintu pesawat.

Ternyata, ketika meraba seluruh bagian pintu, awak kabin harus memastikan tidak ada suara mendesis atau angin yang masuk melalui bagian ini. Jika ada sedikit saja angin yang masuk. Awak kabin akan memberitahukannya pada pilot, yang kemudian pilot akan meminta penundaan penerbangan dan baru dilanjutkan setelah masalah ini dapat diatasi.

Mengapa hal ini dilakukan? Cerita Juliamada, pramugari Lion Air yang sedari tadi ramah menjawab pertanyaanku, pintu pesawat yang tidak tertutup sempurna dapat menyebabkan hilangnya tekanan pesawat akibat dekompresi. Selain itu, dalam kabin akan mengalami penurunan jumlah oksigen.

“Maka, ketika menjadi pramugari Lion Air kami harus secara disiplin untuk menjalankan prosedur penerbangan, mengenali dan merasakan semua hal yang berkaitan dengan keamanan. Setelah semua keadaan di kabin kami pastikan baik, kami melaporkannya pada pilot.” Juliamada – Lion Air JT 0631, BKS-CGK.


Mengapa naik Lion Air?

Setelah berbincang-bincang, saya kembali ke kursi. Saat berjalan kembali itu, saya melihat ada Walikota Bengkulu yang ikut dalam penerbangan ini didampingi beberapa orang, yang saya pikir ajudannya.

Baru saja duduk, anggota dewan yang di sampingku mulai bertanya lagi, ada apa? Saya tetap menjawab tidak ada apa-apa. Lalu dia mulai bertanya dari mana, mau ke mana.

Satu hal menarik dari perbincangan kami. Ketika kutanya, mengapa masih terbang dengan Lion Air?

Dia menjawab;

“Saya masih percaya dengan Lion Air. Setiap awak pesawat pasti sudah memastikan kondisi pesawatnya hingga berani terbang. Jika ada kejadian, itu sudah kehendak-NYA. Apalagi saya mendengar kesalahan terbaru itu bukan dari Lion, tapi dari produsen pesawatnya.” – Anggota DPRD Provinsi Bengkulu, tidak saya sebutkan namanya biar nggak dibilang kampanye.


Kisanak, awak kabin selalu memastikan keamanan setiap penerbangan. Tenanglah!