Pulau Kemaro tampak dari kapal yang saya tumpangi


Tak lengkap rasanya ketika mengunjungi Kota Palembang, jika tak singgah di Pulau Kemaro. Pulau ini amat terkenal, sebab posisinya yang membelah Sungai Musi dan legenda yang hingga saat ini dipercaya masyarakat Sumatera Selatan.


PULAU Kemaro adalah delta atau daratan yang terbentuk akibat pendangkalan pada bagian tengah Sungai Musi. Namun sejak kapan delta ini terbentuk, sampai saat ini saya tak menemukan referensinya. Meski demikian, masyarakat meyakini, pulau ini muncul di tengah sungai secara tiba-tiba.

Dari Koko Mulyadi, keturunan ke-14 keluarga keturunan Tiongkok yang pertama di Palembang, saya pun mendapat cerita.

Kala itu, tersebutlah seorang pangeran dari negeri Tiongkok bernama Tan Bun An. Selama berdagang di Palembang, yang kala itu masih berupa kerajaan. Sang pangeran jatuh hati pada Siti Fatimah, seorang putri dari kerajaan.

Gayung bersambut, Siti Fatimah pun mau dipersunting oleh Tan Bun An.

Diceritakan Koko Mulyadi, Tan Bun An lalu membawa Siti Fatimah berikut pengawal pergi berlayar ke Tiongkok untuk meminta restu pada kaisar. Tanpa disangka, restu itu dengan mudah didapatkan Tan Bun An. Penuh keriangan sang pangeran pun kembali berlayar ke Palembang.

Sebelum berangkat, sebagai hadiah untuk pernikahannya, kaisar memberikan tujuh guci emas. Seluruh guci ini nantinya akan digunakan untuk hadiah bagi keluarga kerajaan atas dinikahkannya sang putri dengan Tan Bun An.

Tujuh guci emas ini sendiri sebenarnya permintaan Tan Bun An, lantaran Ia diminta oleh keluarga kerajaan untuk membuktikan cintanya pada Siti Fatimah dengan membawa emas.

Zaman itu, masih banyak perompak. Untuk mengelabui agar perompak tak mengetahui jika ada guci berisi emas, saat meletakkan di kapal, kaisar menutupi seluruh guci-guci tersebut dengan sayur mayur.

Kamar Tan Bun An yang hingga kini masih terawat dengan baik


Tibalah waktu keberangkatan Tan Bun An dan Siti Fatimah kembali ke Palembang. Taktik kaisar berhasil, selama perjalanan, kapal pangeran tak diganggu oleh perompak.

Namun, setibanya di Sungai Musi, lantaran sudah dekat dengan kerajaan, Tan Bun An mulai membuka hadiah.

Betapa terkejutnya Tan Bun An, sebab yang dilihatnya hanya tumpukan sayur.

Karena marah, Ia pun membuang 6 buah guci ini ke tengah Sungai Musi. Lalu kembali menghadap pada kakaknya, Chua Tam An.

Sesampainya di pusat administrasi warga Tiongkok di tepian Sungai Musi, yang saat ini disebut Kampung Kapitan, Chua Tam An pun menanyakan perihal hadiah yang diberikan kaisar.

Dengan tanpa merasa bersalah, Tan Bun An mengatakan perihal dibuangnya guci-guci hadiah kaisar.

Chua Tam An pun terkejut, dengan marah dia menyebut guci-guci tersebut berisi emas.

Merasa tak percaya, Tan Bun An pun memecahkan guci yang tersisa dan melihat serbuk hitam. Ya, pada zamannya, emas mentah berupa serbuk-serbuk hitam.

Lukisan sosok Chua Tam An yang hingga kini masih berada di rumah peninggalan keluarga ini


Merasa menyesal, Tan Bun An pun kembali mengajak Siti Fatimah dan pengawalnya untuk kembali mencari guci yang dibuang di tengah Sungai Musi. Rasa bersalah pada kaisar berkecamuk memenuhi pikiran Tan Bun An.

Setibanya di tengah Sungai Musi, Ia pun menceburkan diri ke sungai untuk mencari guci-guci hadiah raja. Namun sebelum itu, Ia berpesan pada Siti Fatimah, jika Ia tak muncul, maka sebagai gantinya akan ada darat yang muncul ke permukaan.

Setelah menunggu lama, Tan Bun An pun benar-benar tak muncul. Melihat hal ini, Siti Fatimah pun menyusul dengan menceburkan diri ke Sungai Musi dengan pesan yang sama pada pengawalnya.

Masa penungguan sang pengawal pun tak membuahkan hasil. Kedua junjungannya tak muncul, maka Ia pun menceburkan diri ke sungai untuk mencari keduanya. Tapi apa dikata, pengawal pun tak ada yang berhasil muncul ke permukaan.

Hingga akhirnya, sumpah Tan Bun An dan Siti Fatimah pun terbukti. Di tengah-tengah Sungai Musi akhirnya muncul daratan.

Belakangan, daratan ini dinamai Pulau Kemaro. Bukan tanpa alasan, dinamai Pulau Kemaro lantaran pulau ini tak pernah sekalipun kebanjiran. Meski berada di tengah Sungai Musi, pulau ini tetap kering. Bahkan, sekalipun debit air sungai naik, dan membanjiri daratan di tepian sungai, Pulau Kemaro tetap tak pernah kebanjiran.

Makam Tan Bun An dan Siti Fatimah yang dianggap sebagai lambang keabadian cinta


Pencarian jodoh

Dari legenda Tan Bun An dan Siti Fatimah inilah kini muncul pula kepercayaan, bagi sesiapa yang ingin cepat mendapatkan jodoh, maka hendaklah berkunjung ke Pulau Kemaro.

Entah benar atau tidak, semuanya masih misteri. Namun, mitos ini sampai sekarang masih tetap ada dan berduyun-duyun orang untuk membuktikannya. Sebab, bagi yang telah memiliki jodohnya pun, dengan mendatangi pulau ini, diyakini akan abadi dan tak terpisahkan.


Festival Cap Go Meh

Berkesempatan mengunjungi pulau ini, saya pun menyusuri beberapa tempat yang disakralkan warga. Seperti Klenteng Hok Cheng Bio. Di dalam klenteng ini terdapat dua gundukan tanah yang dipercaya sebagai makam Tan Bun An dan Siti Fatimah.

Selain itu, di pulau ini pula dibangun Pagoda 9 lantai. Saya tidak tahu persis tingginya, yang jelas untuk mencapai puncak tertinggi, kaki rasanya gempor.

Awalnya begitu melihat ketinggiannya, saya merasa sudah malas, tapi rugi rasanya. Sudah sampai di pulau ini saya tak mencapai puncak Pagoda.

Akhirnya, meski dengan nafas tersengal dan betis yang pegal, saya sampai di puncak.

Untuk diketahui, dari puncak Pagoda ini, kalian bisa menikmati pemandangan seluruh Kota Palembang dari ketinggian.

Wisatawan asal Singapura saat sembahyang di Klenteng Hok Cheng Bio


Kini setiap tahun, tepatnya di bulan Maret, di pulau ini diadakan tradisi perayaan Cap Go meh. Pulau ini pun dipadati wisatawan beragama Konghucu baik itu dari dalam maupun luar negeri.


Kisanak sudah lelah mencari jodoh? Datanglah ke Pulau Kemaro. Siapa tahu ada gadis Palembang yang siap dipinang.