"Cinta tidak hanya pikiran dan kenangan. Lebih besar, cinta adalah dia dan kamu. Interaksi." - Dee Lestari

“Just landed, CGK-BDJ.”

“Aku nginep di sini.”

“Kamu lagi di mana sih?”

“Mas.”


Berturut-turut pesan itu masuk.

Aku lupa ngecas handphone, alhasil jam satu siang sudah ngedrop. Sementara hari itu aku harus keliling lapangan melihat proses produksi. Malam hari semuanya baru selesai.

Ketika sampai di mess, cas hp, bersih-bersih, makan dan ketika mulai berbaring sekitar jam sebelas malam, aku baru mulai menghidupkan handphone lagi.

“Selamat istirahat.” Aku membalas pesan Key.

Seadanya, mungkin dia sudah tertidur. Sebab jadwal penerbangan terakhir Lion Air dari Jakarta (CGK) ke Banjarmasin (BDJ) sudah larut dan dia mengirim pesan sekitar 20 menit yang lalu.

“Kamu ke mana saja? Nggak kasih kabar.”

Nyatanya dia belum tidur.

“Tadi ke lapangan, Key.”

“Kenapa nggak ngasih kabar?”

“Hp-ku ngedrop, aku lupa ngecas, jadi jam satu tadi sudah mati sendiri.” jawabku sungguh-sungguh.

“Sekarang batery-nya sudah ada isinya kan? Telepon.”

Aku sudah bilang kan? Tak pernah bisa menolak permintaan Key. Meski mataku mulai berat, tetap saja aku menekan dial.

Padahal, kejadian itu, di enam bulan perkenalan, enam bulan terus berbalas pesan, bertelepon, aku dan Key tetap bukan pacar.

Actually I need someone here. But I dont know, why still waiting Key.

“Hmmm…” Gumamku menandai aku mendengar sapaan hallo.

“Kamu beneran ke lapangan tadi?”

Berhadapan dengan perempuan yang sedang curiga, terkadang lebih menakutkan dari panggilan penyidik.

“Iya, Key.”

“Bohong!”

“Dari mana aku bohongnya. Terus apa untungnya bohong samamu? Pacar juga bukan.”

“Oh kalau pacar terus mau dibohongi gitu?”

“Bukan begitu. Tapi kan. Ah sudahlah, susah ngomong samamu.” Aku sedikit meninggi.

Tak ada suara di seberang. Cukup lama.

Sesekali terdengar tarikan nafas yang dalam, dan hembusannya yang panjang.

“Key.”

Aku memanggilnya lembut, merasa bersalah karena sempat meninggikan suara.

“Iya, Mas.” Suaranya lebih pelan.

“Kamu kenapa?”

“Enggak apa-apa.”

“Enggak apa-apa, kok diam saja? Key, aku serius tadi ke lapangan.”

“Iya, Mas. Sampai hari ini aku masih bingung dengan perasaanku sendiri. Tapi tolong, Mas kasih aku kabar ya.”

Suaranya lembut seperti ketika memelukku di gerbang mess Balaraja.

“Ada apa sih, Key?” Suaraku tetap rendah.

“Aku hanya ingin terus tahu kabarmu. Aku nggak mau kita nggak komunikasi. Semakin ke sini, aku makin ngerasa takut.”

“Takut kenapa?”

“Takut kamu hilang, Mas.”

Aku senang mendengarnya mengatakan itu. Apa yang kutunggu selama ini akhirnya sedikit terungkap.

“Key, kamu nggak akan kehilangan aku.”

“Lelaki selalu begitu. Aku yakin, dulu Ayah juga mengatakan hal yang sama pada Ibu. Tapi apa? Akhirnya dia menghilang juga.”

“Pulanglah.” Inilah pertama kali aku meminta padanya.

“Aku pasti pulang, Mas. Tapi, saat ini, aku hanya ingin apa pun yang kamu lakukan, kamu ke mana? Ngapain? Kamu kabari aku saja. Itu sudah cukup.”

“Hanya itu?”

“Ketahuilah, Mas. Hanya komunikasi yang kita punya saat ini. Hanya saling berkabar yang kita bisa. Kalau saja aku di sana, pasti aku menemanimu makan malam.”

Key diam sejenak lalu melanjutkannya lagi;

“Aku nggak akan tahu kalau kamu kenapa-kenapa. Padahal aku menunggu dan khawatir. Sementara kamu nggak kasih kabar.”

“Mulai sekarang, kamu kasih kabar aku terus ya?” Katanya lagi.

“Kita pacaran?” Tanyaku.

“Enggak usah ambil kesempatan deh! Aku cuma minta dikabari.” Mulai meninggi lagi dianya.

“Kok ambil kesempatan. Terus aku selalu ngabari buat apa?”

“Ya biar aku tenang.”

“Cuma itu saja? Bukannya lebih tenang kalau jadi pacar?”

“Halah modus. Sudah istirahat sana, kamu pasti capek kan? Aku juga ngantuk.”


Terkadang perempuan memang membingungkan. Tapi aku terus menunggunya. Aku masih mengingat pelukannya, aku masih mengingat bagaimana dia bercerita tentang Ayah dan Ibunya.

Aku membayangkan bagaimana susahnya Ia menghadapi berbagai pertanyaan tentang di mana Ayahnya semasa SD, SMP, SMA dan mungkin hingga saat ini. Aku yakin tak semua orang mendapat cerita darinya.

Di balik senyumnya yang manis, dia menyimpan ruang kosong atas kasih sayang Ayah.

Well, bagiku dia perempuan sempurna, smart and charming.


Kupelankan suara musik di hp, terdengar jernih suara Virzha – Tentang Rindu.

Ku hanya diam
Menggenggam menahan segala kerinduan
Memanggil namamu di setiap malam
Ingin engkau datang dan hadir di mimpiku
Rindu

Selamat pagi, Kisanak. Masihkah kalian saling memberi kabar?