SELAMA 19 tahun hidup di dunia, aku tak pernah merasakan punya Ayah, Mas.”

Malam itu kamu memilih ketiakku untuk menyembunyikan wajahmu sebelum mulai bercerita.

Entah kenapa aku dan pramugari cantik menjadi sangat akrab, di hari kedua setelah perkenalan di foodcourt bandara.


“Hai, Key.” begitu saja aku mulai menyapanya di whatsapp.

“Iya, Mas.”

“Kamu sudah bangun?”

“Sudah mandi malahan. Jadi ke Sentiong, Mas?”

“Kamu tunggu di mess ya. Sebentar lagi aku nyampe.” kataku tanpa menjawab mau ke Sentiong atau tidak.

“Loh sudah berangkat. Iya, hati-hati.”

“Siap, Bos.”

Lalu dia membalas dengan emot senyum yang biasa saja.

Apa tandanya? Soal makna setiap emot secara psikologi nggak bakal kubagi ke pembaca. Piss βœŒ


Nyatanya kami tak jadi ke Sentiong, aku memilih mengajaknya berjalan menyusuri Situ Cipondoh, mengayuh bebek apung dan makan baso.

Sepanjang mengayuh bebek apung, aku sendiri tidak tahu bagaimana awalnya. Cerita mengalir begitu saja. Bahkan, ketika bercerita tentang Ibu, Key begitu bersemangat.

Mungkin juga setelah dia tahu, kalau aku bekerja di Malang, di kota tempatnya lahir, besar dan kota tempat Ibunya masih berada.

Menurutnya, Ibu adalah segalanya. Kebahagiaannya adalah prioritas.

“Setiap bangun tidur dan selesai tugas, aku selalu meneleponnya. Ibu selalu khawatir kalau aku jauh. Tapi katanya, dia harus rela agar aku bisa meraih mimpi-mimpi dan masa depanku. Ibu juga ingin aku bertemu lelaki yang baik.” katamu.

“Ibumu pasti sangat baik. Dan lelaki itu, mungkin aku,” timpalku. Serius.

“Hahahah.” tertawamu lepas. Dan aku suka.

“Besok, Mas pulang ke Malang? Flight pagi kan? Sampai sana, Mas jangan lupa main ke rumah. Ibu selalu suka kalau ada temanku yang datang.”

“Baik, aku akan mampir ke rumahmu. Aku bakal ajak Ibu jalan-jalan.”

“Hah! Serius?”

“Serius.”

“Suwun ya. Bilang sama Ibu, aku selalu sehat dan baik-baik saja.”

“Iya. Aku tak akan membuatnya cemas.”


Dari Situ Cipondoh, perjalanan kami berlanjut mengantarkannya ke salon.

Kata dia, pramugari harus selalu fresh. Salah satu cara agar tampil maksimal dengan menghilangkan stres. Perawatan di salon pun membuatnya lebih segar.

Aku ikut saja. Toh semua sudah aku niati. Tak pernah aku merasa keberatan atas ini.


Hingga larut dan kembali ke mess di Balaraja. Sesampainya di depan pintu masuk, Ia memilih tak segera turun dari mobil.

“Mas, aku boleh peluk sebentar?”

Aku kaget. Senang, deg-degan dan bingung.

Aku tak bisa menjawab, hanya mengangguk.

Dan Key melingkarkan lengannya di badanku, menyembunyikan wajahnya di ketiak. Aku hanya diam. Serba salah, balas merengkuh, atau? Ah sudahlah.

“Maaf. Aku tak tahu kenapa jadi sebaik ini di dekat, Mas. Aku merasa sangat nyaman. Dan kamu adalah laki-laki kedua setelah Ayah yang kupeluk. Semoga bukan pelukan terakhir.”

Kuusap kepalanya. Suasana di mobil menjadi hening. Hanya suara Bruno Mars dengan Talking to the Moon-nya masih mengalun lembut.

Lagu ini diputar Key berulang kali.

“Selama 19 tahun aku hidup di dunia, tak pernah merasakan punya Ayah, Mas.”

“Dari TK, SD, SMP, SMA selalu Ibu yang ambil raport. Setelah kursus, aku bertekad menemukannya, meski Ibu tidak pernah memberikan petunjuk apa pun. Tapi akhirnya aku berhasil mencari adik Ayah, lalu bertanya keberadaannya,” tangan Key terasa semakin erat.

“Aku berhasil menemukan Ayah. Aku tidak menangis, aku bahkan hanya memandangnya saja, berkata-kata sejenak. Berkenalan, memeluk sebentar, lalu aku pulang, semuanya hampa,” nafasmu terdengar begitu sesak.

“Apa Ayahmu begitu dingin, Key?” pertanyaan bodohku meluncur begitu saja, aku tidak tahu harus berkata apa.

“Entah, tapi aku tidak menemukan apa-apa. Atau karena aku sudah terbiasa tanpa dia? Mungkin begitu. Kamu tahu, Mas? Aku menulis sebuah diary untuk Ayah, setiap hari aku menulisnya. Aku berharap ketika selesai kursus aku bisa menghadiahkannya untuk Ayah. Tapi…” sampai di situ matanya berair. Lalu mengusap-usapkannya di lenganku.

“Tapi kenapa?”

“Ketika sedang ada kegiatan di Jogja, aku dikabari Ayah sakit keras, meninggal dan aku tak sempat melihatnya lagi. Satu kesempatan terakhirku hilang, aku lulus kursus pun tanpa Ayah. Dan pertemuan pertamaku dengannya, adalah pertemuan terakhir,” aku tertegun.

“Aku sekarang lupa wajahnya, Mas. Benar-benar lupa.”

Aku masih terdiam, gadis cantik terisak begitu pilu.

“Kesalahan Ayah adalah meninggalkan Ibu. Lalu aku ikut menanggung kehilangan.”


Key, sekarang aku sedang memutarnya. Katamu, lagu ini jadi pengingat untuk tak melakukan kesalahan, agar tak kehilangan.

…
At night when the stars light up my room
I sit by myself
Talking to the Moon
Try to get to You
In hopes you’re on the other side
Talking to me too
…


Key pernah bilang “Apapun kesalahan orangtua, mereka adalah surga kita,” – 
Selamat menyambut Kamis, Kisanak.