“Ji, where are you? Help me please!”

Pagi-pagi, sebuah pesan di WhatsApp tetiba membuatku membukanya lebih cepat. Secara ini pesan datang dari teman kecilku. Teman yang kusayang dengan sepenuh hati.

Namanya Friska, sejak kecil aku dan dia sudah sama-sama. Mulai dari TK, SD, SMP, SMA. Bahkan pas kuliah, ngekost pun nggak jauh-jauhan.

Ini sangat banyak membantu, sebab ketika aku kehabisan bahan pangan, kost Friska adalah satu-satunya tujuan harapan hidup selanjutnya.

Ya selalu begitu. Friska anak orang yang lebih berada dibanding keluargaku. Tapi dia selalu baik.

Kalian nggak nanya, aku sayang doang ke dia?

Iya aku sayang, tapi nggak doang sih. Sebenarnya aku sayang beneran. Tapi suatu hari Friska pernah bilang, dia nggak bakalan pacaran sama sahabat. Pas ditanya alasannya, nanti kalau putus nggak bisa sama-sama lagi, nggak bisa minta tolong lagi.

Setelah kupikir-pikir, ada benarnya juga. Kalau dulu Friska jadi pacarku, dan putus. Mungkin sekarang aku susah minta tolong ke dia, minjem duit misalnya. Dan dia nggak sebebas ini menghubungiku buat perintah ini itu.

Ya, ada benarnya.


“Iya, ada apa? Aku di Malang dong. Kamu yang di mana?” balasku.

Tetiba tanpa balas pesan, dia langsung telepon.

“Ji, aku butuh kamu. Aku mau cerita. Tapi harus ketemu. Kamu ke sini ya?”

“Wew aku kerja. Cerita di telepon saja kenapa memangnya?”

“Yasudah aku yang ke Malang. Masih ada kan penerbangan siang nanti?”

“Iya ada, Batik Air dari Halim, jam 12 ke Malang,” kataku.

“Oke, aku cari tiket.”


Sekarang, Friska di Jakarta, bekerja di sebuah perusahaan suku cadang otomotif terbesar di Indonesia. Posisinya lumayan mentereng. Sejak dulu dia cerdas, cekatan, cara komunikasinya juga bagus. Mungkin itu menjadi salah satu alasan kenapa karirnya melesat dengan cepat.

Sementara suaminya, bekerja menjadi dosen di salah satu universitas di Australia.

Friska tidak pernah main-main. Kalau sekali bilang berangkat, apapun rintangan pasti dia hadapi. Sesuai namanya, dia enerjik.

Pun kali ini, siang itu tetiba Friska sudah meneleponku minta dijemput ke Bandara Abdul Rachman Saleh.


“Gimana penerbangannya?” tanyaku sambil menaikkan kopernya ke kursi baris kedua.

“Overall oke,” jawabnya, sambil memelukku dari belakang sebelum akhirnya membuka pintu mobil.

“Nekat banget. Kamu nggak kerja?” tanyaku lagi ketika sudah mulai menjalankan mobil.

“Aku izin tiga hari.”

Tampak di raut wajahnya yang memang seperti sedang menghadapi masalah serius.

“Yasalam. Oke, kita mau ke mana? Makan dulu atau cari hotel buat kamu nginep?”

“Kita ke hotel saja dulu. Selera makanku hilang sekarang.”

“Baiklah.”

Aku mengarahkan mobil ke The Grand Palace dan tak banyak bertanya lagi. Membiarkannya menikmati pemandangan gerimis yang mulai membasahi Kota Malang mungkin lebih baik.


Setelah masuk ke kamar, Friska menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur dengan posisi tengkurap dengan wajah ditutup bantal.

“Ada masalah apa?” tanyaku, sambil meletakkan koper, mulai membuka tirai jendela dan duduk di kursi.

“Aku nggak tahu mesti mulai dari mana?” Katanya sambil memutar kepala dan memandangku.

“Dari mana saja yang kamu bisa,” sahutku.

“Aku pacaran dengan lelaki beristri, Ji.”

Pernyataannya ini membuatku terkejut dan mengajukan pertanyaan beruntun.

“Hah! Bagaimana bisa? Dengan siapa? Suamimu bagaimana? Apa tidak ada masalah nanti?”

“Dengan teman satu kantor. Dan masalahnya sudah ada. Istrinya tahu. Aku bingung harus bagaimana?”

“Bagaimana dengan suamimu?”

“Suamiku tidak tahu. Lagipula, kalau pun dia tahu, pasti akan cuek saja. Toh dia sekarang sudah punya anak dengan selingkuhannya.”

Lagi-lagi aku terkejut.

“Oke sekarang apa yang bisa kulakukan?” tanyaku.

“Istrinya ngancem-ngancem mengadukan masalah ini ke kantor dan bakal hubungi suamiku.”

“Oke, apakah istri pacarmu itu benar-benar tahu tentang ini atau hanya sekedar menebak-nebak saja?”

“Sepertinya hanya menebak-nebak saja. Baru sering kepoin medsosku dan tahu kalau aku dan suaminya beberapa kali keluar berdua,” katanya.

“Baiklah, masih ada ruang untuk membantahnya. Ini bukan konspirasi jahat, tapi demi menyelamatkan semuanya.”

Aku ingat betul ketika itu, Friska beberapa kali menumpahkan kegundahannya dengan membuat status-status galau di media sosialnya.


“Sekarang kamu cerita, bagaimana awalnya sampai kamu bisa pacaran sama lelaki itu.”

“Semuanya mengalir begitu saja. Kantor punya project baru yang harus selesai dalam waktu cepat. Dan dia, berada di salah satu bidang yang memang berkaitan dengan project yang harus diselesaikan.”

Sampai di situ Friska bangun, mengambil botol air mineral dan menengguknya hingga habis setengah.

“Aku kebingungan karena ada yang tidak aku tahu. Dia melihat dan membantuku sampai jam 7 malam. Tapi sebelum itu dia bilang, nanti upahnya kiss. Aku kan orang baik, jadi ya aku kasih.”

Di bagian ini aku ngakak.

“Ya Tuhan. Kenapa ada kisah sekonyol ini di dunia nyata. Aku pikir ini hanya akan ada di sinema.” Kataku sambil terkekeh-kekeh.

“Etapi kissnya enggak langsung aku kasih kok. Setelah 4 bulan kemudian, aku harus ke toko buat bayar handphone yang diberikan kantor buat seluruh supervisor. Jumlah uang yang kubawa tiga puluh juta. Nah itu rencananya aku mau bawa mobil sendiri. Tapi kantor malah nyuruh dia buat nemeni.”

“Terus dia benar-benar nemeni?”

“Iya, dia orangnya tanggung jawab dan care dengan yang lain. Makanya dia setirin mobilku dan anterin ke toko. Pas pulangnya, aku nanya ke dia, apa nggak mau nagih hutang?”

Kulihat Friska malah senyum-senyum sendiri. Seperti sedang bercengkrama pada kenangannya.

“Tahu nggak, dia bilang. Mau nagih tapi takut. Akhirnya aku suruh pinggirin mobil. Dan aku cium dia. Bukan di pipi. Paham kan?” tanyanya serius.

Lagi-lagi aku tertawa sepuasnya.

“Sampai sekarang aku masih ingat, di mana mobil itu menepi dan bagaimana posisinya.”

“Hmmmm sangat dalam. Kamu cium itu karena punya rasa?” sahutku sekenanya, tapi dia tak peduli dan melanjutkan cerita.

“Ya awalnya nggak ada rasa apa-apa. Tapi ketika di kerjaan, mau aku omelin kayak apa pun, dia selalu ngalah. Padahal aku sadar, kadang aku yang salah. Dia tetep aja ngalah. Dari situ aku mulai nyaman.”

Kisanak, hati-hati. Jangan sembarangan bikin perempuan jadi nyaman.


Friska melanjutkan ceritanya hingga ketika lelaki itu harus mengikuti pelatihan di Bogor. Padahal, waktu itu sedang demam tinggi.

Lantaran mendapat laporan dari karyawan lain kalau demamnya semakin tinggi, Friska akhirnya menyusul ke Bogor.

“Satu hal yang bikin aku sempat shock. Tapi juga senyum-senyum sendiri. Ketika sampai ke hotel tempatnya menginap, resepsionis bilang. ‘Oh Ibu Friska, Bapak tadi sudah menitipkan kunci kamar kok. Jadi nggak perlu ambil kamar baru.’ Aku sempat kaget, tapi akhirnya aku ambil juga kunci kamar itu.” katanya.

“Apa yang terjadi di kamar?” tanyaku.

“Nggak terjadi apa-apa. Begitu selesai pelatihan, dia masuk kamar dan mengabari kalau lulus. Karena demam tinggi, aku memintanya istirahat. Dan malam itu malam ulang tahunnya. So, ketika malam ulang tahun itu dia kupeluk, sampai akhirnya pagi itu istrinya telepon dan memintanya segera pulang karena pelatihan sudah selesai.”

“Aku tahu, istrinya posesif dan terkadang sampai menyita barang-barangnya. Makanya aku suruh dia segera kembali ke Jakarta.”


Kini perempuan cerdas di depanku ini memilih untuk mandi sebelum melanjutkan ceritanya.

“Aku mandi dulu. Engep dari pagi belum mandi.”

Pada akhirnya aku juga berkirim pesan untuk bos di kantor, tak bisa masuk kerja sampai besok.

Lalu kukirim WhatsApp pada Key; “Aku nggak kerja, ketemu temen. Miss U my cloud”

Kupandangi sekeliling hotel dari jendela kamar.  Ya Tuhan, hidup ternyata selucu ini.



Selamat Rabu, Kisanak. Kisah ini belum berakhir. Apakah kisahmu sudah usai?