“Mas, kamu ketemu siapa sih?”

“Ini ada teman kecilku, Key. Kebetulan liburan 3 hari di Malang.”

“Cowo atau cewe?”

“Cewe. Kenapa?”

“Yaudah. Baik-baik. Jangan digombali.”

“Kamu ke mana hari ini?”

“Ini lagi siap-siap. Penerbangan ke Bengkulu.”

“Baiklah. Hati-hati. Miss U.”

“Iya. Miss U too.”

Telepon kututup. Sore itu sekitar pukul 16.20 WIB adalah jadwal penerbangan terakhir Lion Air dari Jakarta menuju Bengkulu. Artinya Key bakal menginap di sana.

Sementara aku masih berada di Grand Palace, menemani Friska yang sedang ketiban sial.


Setelah selesai mandi, tak sedikit pun raut segar Friska terlihat. Wajahnya masih saja kusut penuh ketegangan.

“Kita cari makan saja dulu. Sudah sore, kamu harus ingat, sejak dulu asam lambungmu suka kambuh kalau telat makan,” kataku pada Friska.

“Iya.”

“Mau makan apa?”

“Terserah. Apa saja aku ikut. Tapi kalau bisa yang terkenal di sini.”


Sambil berjalan menuju mobil, aku masih kepikiran. Apa benar ketika di Bogor, sejoli yang sedang dimabuk cinta itu tak melakukan apa-apa? Sementara mereka menghabiskan malam di satu kamar.

“Kamu yakin waktu sekamar di Bogor tidak terjadi apa-apa?” tanyaku sambil nyengir.

“Yakin. Tapi, pertanyaanmu justru membuatku menyesal kenapa tak melakukannya.” katanya sambil terkekeh.

Sialan!

Aku jadi keki sendiri. Kepikiran ketika dipeluk Key, kenapa tak…

Halah, sudahlah. Kisanak nanti kepengen.

Bakso President


Sepanjang mencari tempat makan, sempat terbersit untuk mengajak Friska ke Aquanos, tapi aku tak enak hati jika ternyata Crescendo sedang perform. Pasti Dinda akan menduga-duga. (Tentang Dinda Baca di Sini)

Maka aku putuskan untuk mengajaknya ke Bakso President.

“Sekarang kalau menurut kamu sendiri, apa yang mesti dilakukan?” tanyaku pada Friska.

“Aku nggak tahu, Ji. Sekarang istrinya minta nomer WhatsApp suamiku. Mau membuktikan kalau aku memang hanya berteman dengan suaminya. Tapi belum kukasih.”

“Yang ini gampang. Kamu kasih nomer WhatsApp-ku. Dan sekarang kirimi aku foto suamimu, biar aku jadikan aku foto profilku. Nanti yang menanggapi istri pacarmu itu aku.”

Ide gila ini pun disetujui Friska. Saat itu juga aku mengganti foto profil di WhatsAppku dengan foto suami Friska.

Aku siap bersandiwara.

Sekalipun mungkin akan ada beberapa temanku yang curiga, tapi aku sudah menyiapkan jawaban untuk semua pertanyaan, yang sepertinya akan ditanyakan terkait foto profil.

“Berarti clear kan? Satu solusi sudah ketemu. Sekarang apa lagi?”

“Istrinya juga ngajak bertemu denganku, dan suaminya. Duduk bertiga. Untuk melakukan klarifikasi. Aku harus bagaimana?”

“Hadapi saja. Jangan menghindar, nanti malah semakin kuat dugaannya. Tapi kalau kalian mau dikronfontir, itu akan lebih memudahkan untuk menutupi semuanya.” Kataku.

“Oh begitu?”

“Iya. Tapi kalian berdua harus satu suara. Jangan ada yang keceplosan. Kecuali kalian memang mau merusak semuanya.” sambungku.

“Ada lagi?” kataku lagi.

“Sudah. Tidak sia-sia aku nyusul kamu ke Malang.” katanya semringah.

“Sudah? Hanya itu?”

“Setidaknya kamu selalu bisa memberiku solusi dan menguatkanku, Ji.”

“Kenapa tak menikah denganku saja?”

“Nanti kamu yang aku selingkuhin. Mau?”

“Tapi aku kan tak pernah meninggalkanmu.”

Jawaban itu membuatnya tertawa sendiri, apalagi melihatku bermuka masam.


Kami menghabiskan sore di Bakso President. Meski berada di tepi rel kereta api, bakso ini sangat terkenal, karena rasanya yang memang luar biasa.

Di sana Friska bertanya tentang Key. Perempuan yang beberapa kali dilihatnya ada dalam akun medsosku.

“Eh waktu itu kamu ada post cewe. Dia pacarmu?”

“Namanya Audrey Keyser. Bukan pacar. Tapi aku berharap akan jadi pacar.”

“Sudah ngomong sama dia?”

“Secara langsung belum. Tapi beberapa kali aku sudah memberi isyarat. Sampai hari ini aku juga tidak tahu, apa dia punya keinginan yang sama atau tidak. Tapi, kami selalu saling berkirim kabar.” kataku menjelaskan.

“Pacar bukan, apa-apa bukan kok minta kabar-kabaran. Kenapa nggak ngomong saja. Biar jelas semuanya.”

“Bagaimana ngomongnya, ketemu saja baru dua kali. Hari ini kenalan, besoknya jalan sebentar, terus kita sudah harus sibuk dengan pekerjaan masing-masing,” gerutuku.

“Dia di sini kan?”

“Ya, dia di sini.” kataku menunjuk jantungku.

“Hahaha lebay. Aku serius, dia di sini atau di mana gitu?”

“Dia nomaden. Hari ini dia istirahat di Bengkulu. Besok pagi sudah berpindah lagi, hari-harinya bersama awan.” Kataku berhenti sejenak.

“Dia pramugari Lion Air. Tapi orang Malang sini kok.”

“Pasti cantik.” potong Friska.

“Cantik itu hatinya. Aku suka tingkahnya. Kadang lucu, kadang suka menyebalkan, kadang manja. Tapi dia mandiri.”

“Terus kamu sampai kapan menunggunya?”

“Pasti akan datang waktunya. Kita keliling lagi yuk.”

Aku mencoba mengakhiri pembicaraan tentang Key. Sebab, aku tidak tahu harus bagaimana saat ini. Yang kutahu, saat ini menunggu Key adalah yang terbaik.

Ayam Bakar Lientang


“Aku butuh nasi. Kita cari makan lagi.”

Malam akan membuat Kota Malang semakin ramai. Aku mengajak Friska makan lagi di Ayam Bakar Lientang. Maklum kalau belum mengunyah nasi, serasa belum makan.

Selesai makan, aku dan Friska langsung kembali ke Grand Palace.

Sepanjang perjalanan, kami banyak membahas kabar teman-teman yang sekarang sudah bertebaran di mana-mana.

Sempat juga nggosipin teman kami yang dulu langsung menikah ketika lulus SMA karena hamil duluan, tapi sekarang justru jadi pengusaha kuliner.

Bahkan ada salah satu teman kami yang pacaran sejak SMP, SMA sampai selesai kuliah pun tak pernah putus. Tapi malah tiba-tiba tak direstui orangtua si cewe.

Butuh perjuangan panjang, meski pada akhirnya si cewe harus menikah dengan pilihan orangtuanya.

Menyedihkan!


Sesampainya di kamar aku merebahkan badan, Friska juga begitu.

Sebentar, Kisanak tak usah berpikir yang tidak-tidak. Sejak SD kami berdua sudah terbiasa satu kamar. Bahkan ketika kuliah, aku biasa tertidur di kamar kost Friska. Sampai pagi.

Hal yang sama terjadi juga saat itu.

“Ji, aku mau nanya. Apa lelaki memang selalu butuh seseorang di sampingnya?”

Pertanyaan Friska membuatku membuka mata yang mulai terasa berat.

“Tergantung. Seseorang yang bagaimana? Teman tidur? Relatif, sampai saat ini aku masih sendiri. Dan aku masih menunggu Key.” Jawabku.

“Kenapa suamiku memilih punya selingkuhan? Bahkan tak juga meninggalkannya, sampai akhirnya sekarang punya anak.”

Matanya menerawang jauh menembus langit-langit kamar.

“Apa kamu yang memintanya untuk kerja di luar negeri?”

“Tidak. Bahkan aku melarangnya. Aku memintanya stay di Jakarta saja. Aku pengen bisa terus sama-sama, Ji. Sama seperti lainnya.”

“Kalau begitu, dia yang tidak bisa menjaga amanah yang sudah menjadi tanggung jawabnya. Kecuali kamu yang memintanya ke luar negeri, maka kamu yang harus siap dengan konsekuensinya. Tapi kalau dia yang nekat ke sana, artinya dia yang seharusnya siap dengan resiko berjauhan.” Kataku sok tahu.

“Aku pernah meminta pisah saja, Ji. Tapi suamiku tidak mau. Sementara aku sendiri tersiksa begini.”

Lagi-lagi pernyataan Friska membuatku kaget.

“Kamu sudah pernah minta cerai?”

“Iya. Sudah pernah. Tapi lagi-lagi pertengkaran memang selalu mereda di ranjang.”

Friska tersenyum kecut.

“Aku sendiri bingung dengan dengan perjalanan hidupku sekarang, Ji.”

“Ohya. Kapan suamimu akan pulang?” tanyaku.

“Bulan depan dia pulang.”

“Sebaiknya kalian bicarakan lagi. Masa depan adalah tanah liat. Masih bisa dibentuk.”

Kali ini Friska menarik selimut, memiringkan badannya menghadapku dan mulai memejamkan matanya.


Malam itu kupandangi wajah Friska yang mulai terlelap. Sungguh, jalan hidupnya yang begitu rumit ini belum berakhir. Tapi aku akan tetap ada untuknya.


Kisanak, tak jarang kita menghakimi seseorang hanya dari tampilan luarnya. Padahal kita sama sekali tidak tahu, sisi lain atas perjalanan hidupnya.