KATAMU, malam adalah harapan. Ketika jingga di ufuk barat mulai terlihat, kamu pasti WhatsApp aku.

“Senja ini kalau ada hujan kecil pasti menyenangkan. Apalagi secangkir coklat panas dan selimut berdua.”

Aku tahu maksudmu, Key.

Kamu memintaku untuk segera kembali ke kotamu. Rindumu selalu membuncah. Bahkan terkadang membuatku kebingungan, harus bagaimana? Atau mungkin perempuan selalu begitu. Setiap kali merindu, mereka tak peduli apa yang sedang dikerjakan lelakinya. Dia akan menghujani kita dengan dering telepon, suara manja atau paling tidak serbuan WhatsApp.

Ingat kan? pernah memarahiku dengan hebatnya? Saat itu, aku sedang menyelesaikan deadline pekerjaan, yang kamu tahu bagaimana aku harus mengerjakannya, harus cepat, harus teliti. Tapi, kamu seakan tak peduli.

“Aku kangen. Apa kamu tidak lagi peduli? Kamu memilih kerjaan daripada mendengarkanku sebentar saja!”

Aku bisa apa? Berpura-pura untuk mendengarkan sambil menyelesaikan pekerjaan itu tak pernah bisa aku lakukan. Dengan terpaksa aku selalu memintamu untuk bersabar, setiap kali rindumu begitu menggebu.

Tak lama setelah itu pasti ada pesan masuk.

“Selesai kerja, kamu telepon cepat!”

Dan aku melakukannya kan, Key? Ketika telah semakin larut, marahmu yang manja membuatku tak berdaya. Aku terus selalu merayumu hingga tawa di ujung telepon terdengar begitu merdu.

Kita selalu begitu. Marahmu tak pernah bertahan lama. Pun aku, tak pernah bisa untuk diam dan tak memintamu untuk tak merajuk.

“Malam selalu penting,” katamu memulai cerita.

“Aku tak ingin rinduku hilang percuma. Kamu tahu? Aku punya teman yang sudah punya pasangan. Ya seperti kita. Mereka terpisah jauh. Hampir setiap hari mereka tak punya waktu untuk berkomunikasi. Padahal keduanya cinta pertama. Sepi membuat mereka masing-masing membutuhkan seseorang untuk menemani. Lalu benar-benar asik dengan dunia sendiri-sendiri,” kamu diam sejenak.

“Mereka benar-benar menikah dengan pasangan sepinya. Sebulan lalu mereka bertemu. Aku harus memberitahumu. Aku tak ingin ini terjadi pada kita. Mereka bertatapan lama. Batin mereka teriris. Aku tahu, sebab mata mereka berbicara,” katamu sok tahu.

“Hanya malam yang kita punya, Mas. Siang kita sama-sama kerja. Jangan pernah menyia-nyiakannya. Aku tak pernah ingin menangis menyesal. Kamu paham kan?” suaranya lebih pelan.

Sejak itu, aku mengerti mengapa malam begitu berarti bagi, Key.

Lalu entah, aku begitu menyukai rewelmu. Merajukmu yang manja dan tak bosan aku membujukmu.

Selamat malam, Key. Aku rindu. Secangkir coklat panas dan selimut berdua.

Kisanak, selamat menyambut Senin! Barangkali secangkir Chocolatos membuatmu merasa lebih baik.