“Ada lelaki yang memang baik. Tapi lebih banyak yang bajingan.”

“Kenapa? Tersinggung? Laki-laki kok sedikit-sedikit tersinggung. Mainmu kurang jauh. Tidurmu terlalu miring!”


SETELAH kenalan dengan perempuan yang dicemburui Key. Aku punya kenalan lagi di Aquanos.

Mungkin karena sering makan di tempat ini, beberapa orang menjadi familiar dan akhirnya bisa berkenalan.

Ada alasan tersendiri kenapa aku sering makan di caffe ini. Selain rasanya yang cocok di lidahku, juga adanya live music yang bikin suasana makan menjadi lebih nikmat. Apalagi, bagi buruh sepertiku yang seharian kerja dengan otot dan otak. Kebutuhan menyegarkan pikiran menjadi semacam prioritas.

La Aquanos berada di tepi jalan Soekarno Hatta, Lowokwaru, Kota Malang.

Untuk menjaga privasi pengunjung, sengaja dipasang pagar yang lumayan tinggi. Selain itu, Mas Bara Yudha, pemilik caffe ini ingin live music yang disajikan memang eksklusif hanya dinikmati oleh pengunjung caffe, sehingga pejalan kaki atau pengendara yang lewat di jalan ini tak bisa melihatnya.

Ada beberapa band lokal yang sering tampil di sini, ketika itu. Semuanya punya kemampuan yang luar biasa dalam membawakan lagu-lagu dari berbagai genre.

Tapi satu band yang memang aku lebih suka. Nama band itu, Musico’s. Personilnya kadang ada 7 orang, kadang tampil 8 orang. Aku juga kurang tahu, apakah ada personil yang changelist dari band lain atau dadakan, atau memang personilnya 8 orang.

Masing-masing memainkan alat musik sendiri, ada gitar, piano, drum, bass, terompet dan tiga orang vokalis, kadang dua orang vokalis, perempuan dan laki-laki.

Tentang orang lain yang kukenal dari La Aquanos, dia adalah salah satu vokalis Musico’s. Namanya Dinda.

Awal untuk menjadi kenal baik juga tidak sengaja.


Pernah mendengar tentang aplikasi Path? Sosial media yang sekarang sengaja dibunuh oleh pemiliknya karena tidak mampu bersaing dengan Instagram, Twitter dan Facebook.

Aku punya akun di Path dan teman-temanku orang Malang. Beberapa ada dari teman sekolah yang memang punya akun di Path.

Aku dan Dinda berteman di Path. Aku yang meminta pertemanan, karena salah satu temanku, adalah temannya juga.

Dinda ini kalau lagi nyanyi dengan suara tinggi, suka bikin pengunjung berdecak. Suaranya agak berat, mirip-mirip Tata Janeta menurutku, tapi sedikit lebih merdu. Bisa jadi penilaian ini subjektif karena terlalu sering melihat performnya.

Apalagi ketika membawakan lagu Mr Saxobeat yang penuh semangat dengan permainan yang komplek itu. Dia sangat cocok.


Waktu itu, dia posting di Path, akun Blackberry Messengernya dibajak seseorang. Padahal, akun itu digunakannya untuk berjualan online.

Ya, selain menyanyi dia berjualan tas premium. Nah karena banyak pelanggannya yang masih menggunakan BBM, alhasil akun itu masih digunakannya dan belum berpindah ke WhatsApp.

Aku iseng saja, mengirim pesan di Path, nanti bakal bantu memulihkan akunnya.

Ternyata hal itu ditanggapi serius. Kami janjian di Aquanos.


“Halo, Mas.”

“Hai, Nda.” kataku menyambutnya.

Sebenarnya kami sudah saling mengenal wajah.

“Mas sorry ya? Kelamaan nunggu. Tadi ada temen minta dianterin dulu.”

“Nggak apa-apa, ini juga baru sepuluh menit duduk. Kita sambil makan ya?”

Dia mengiyakan dan jadilah kami memesan makan dan minum.

“Mas, beneran bisa balikin ini akun?” tanyanya.

“Kamu masih inget email yang dipakai dan password emailnya kan?”

“Masih.”

“Mudah-mudahan bisa.”

Kami mulai memulihkan akun itu, dan tidak butuh waktu lama. Semuanya selesai.

Mau tahu ekspresinya?

Dia sangat bahagia.

Ohya, karena BBM itu masih login pakai hpku, alhasil aku mencoba mengirim pesan testing, ke BBM-nya yang digunakan untuk keperluan pribadi.

“Hai, Nda,” tulisku.

Dia yang duduk di depanku bilang;

“Aku kok berasa BBM-an sama pencuri akun ya?”

Dan kami tergelak.


Hari demi hari aku dan Dinda semakin dekat. Hingga suatu saat dia bercerita tentang pacarnya yang memilih mengakhiri hubungan mereka.

Aku tahu dengan lelaki yang menjadi kekasihnya. Sesekali kami bertemu, tapi hanya aku yang tahu dia, dan pacarnya itu tidak tahu aku.

Maklum, pacarnya juga cukup dikenal di kalangan anak muda.


“Aku mau nenangin diri dulu saja, Mas. Aku pulang ke Probolinggo ya. Lagian sudah kangen Ibu juga.” katanya, itu ketika aku menawarkan untuk cari angin segar.

“Kamu mau aku anterin?”

“Nggak usah, Mas. Kamu kan masih kerja. Aku ikut Bapak saja.” jawabnya.


Dinda ini asli Probolinggo, sejak lulus SMA dia ke Malang. Ambil kursus dan kuliah, dengan biaya sendiri. Semua dari hasilnya menyanyi dan jualan online.

Menurutnya, anak sulung harus lebih mandiri. Setelah tahu itu, aku makin suka berteman dengannya.

Bapaknya sopir bus. Ibunya, Ibu rumah tangga biasa yang mengurusi anak-anak di rumah.

Makanya setiap kali pulang ke Probolinggo, dia ke terminal dan menumpang bus yang disopiri sama Bapaknya.

Dinda perempuan baik. Dia meletakkan rasa dalam segalanya. Tidak ingin mengecewakan orangtua, tidak ingin main-main dalam menjalin hubungan.

Lelaki tak akan mudah mendekatinya jika tak mampu meyakinkan keseriusannya. Maka ketika dia sudah serius, sementara lelaki itu malah main-main. Kekecewaannya luar biasa.

Sekembalinya dari Probolinggo, dia terlihat sudah lebih baik dan ketika tak sedang perform, Ia lebih banyak menghabiskan waktu luangnya denganku.

Terkadang di hari libur aku ke Kelurahan Bandulan, tempat Dinda ngekost. Menungguinya nyuci baju, lalu dadar telur dan kami makan berdua.

“Kayaknya kita harus beli mesin cuci deh, Mas.”

Mendengar itu, aku terkekeh-kekeh dan kamu kebingungan.

“Kenapa sih?”

“Iya, kamu kayak istri minta sama suami saja. Kita?” tertawaku makin kenceng.

Dinda ikut tertawa, tapi kemudian terdiam.

“Iya ya. Mas, kamu nggak mau mandi?” tanyanya tiba-tiba.

“Dari mesin cuci ke mandi, mau mandiin aku pakai mesin cuci? Aku sudah mandi tadi.” sahutku.

“Tadi kan mandi air.”

“Mandi kan memang pakai air. Memangnya mandi apa?”

“Mandi kangen.” Jawabnya serius tanpa ekspresi kalau sedang melucu.

“Hahah kamu ini ada-ada saja.”

“Akhir-akhir ini aku suka kangen kamu, Mas.”

Pernyataan terakhirnya ini membuatku terkejut.

“Apa kamu nggak mau punya tempat pulang yang nyaman, Mas?” pertanyaannya kali ini sangat serius.

“Tak banyak laki-laki baik sekarang ini, Mas. Tapi biarkan aku punya banyak waktu untuk mengenalmu.”

Dan semuanya menjadi hening.


Maaf Nda. Maaf untuk aku yang menghilang begitu saja.

Maaf.

Aku sudah pernah mencarinya (lagi). Meski tak bertemu, aku bahagia melihatnya sekarang, menjadi bagian band besar dengan job-job di event-event yang besar pula.

Dan aku tetap menunggu Key pulang.

Tentang Dinda, biarlah aku menyimpan semangatnya dalam lantunan Mr Saxobeat.



Semangatlah Kisanak! Meski terkadang semua seperti hilang dari genggaman.