Sometimes all you need is a little splash of colour

SELAGI Key sedang di Malang, setelah mengantar ke rumah Ibunya, inginku bisa menghabiskan waktu hingga sore di sana. Tapi apa boleh buat, tetiba bos memintaku ke kantor sebentar lantaran ada laporan yang tak cocok.


“Kamu masih di kantor, Mas?”

“Ini baru sampai mess,” jawabku ketika Key meneleponku sore harinya.

“Mas, kamu kok nggak bilang kalau sudah tiga kali ke rumah?”

“Ibu cerita ya? Untuk apa? Aku juga jauh dari orangtua, tapi sejak kita bertemu, aku merasa Ibumu juga Ibuku.”

Key hanya diam.

“Mungkin memang ditakdirkan jadi mertuaku,” selorohku.

Kamu ingat Key? Waktu itu kamu malah tertawa cekikikan.

“Ibu sudah masakin tuh. Katanya kamu suka sambal matah sama ikan nila goreng. Mas ke sini ya kita makan bareng.” katanya.

“Iya, nanti aku ke sana.”

“Jangan nanti-nanti, sekarang ditungguin, aku sudah laper.”

“Aku mandi sebentar.”

Dan aku bergegas. Untuk hati.


Pernahkah Kisanak makan bersama dengan orangtua dari orang yang kita cintai? Kalau Kisanak di perantauan, cobalah. Rasanya seperti di rumah.

Mungkin ketika pagi sebelum berangkat kerja Key selalu bercerita tentang kedekatan kami pada Ibunya, alhasil kedua kali ke rumahnya, Ibu yang ketika itu sedang masak, memintaku menemaninya makan siang.

Ia banyak bercerita tentang sosok Ayah yang memang sengaja dirahasiakan sejak Key masih kecil. Setelah Key berhasil mencari Ayahnya, saat itu Ibu merasa bersalah karena menyembunyikan cerita itu.

“Tanpa suami, Ibu mampu menghidupi Key. Bahkan kalau dia mau kuliah, Ibu sanggup membiayainya sampai S2 sekalipun.” katanya ketika itu.

“Tapi ternyata ada hal-hal yang tak tergantikan. Ibu tidak berpikir, bagaimana perasaan Key ketika teman-teman sekolahnya bertanya keberadaan Ayahnya.”

Ibu sempat menitikkan air mata. Tapi Ia cepat-cepat menghapusnya.

“Kalau saja waktu itu Ibu cepat memberitahu keberadaan Ayahnya, mungkin Key tak bersusah hati. Ibu baru tahu setelah menemukan buku diary yang ditulisnya setiap hari.”

“Tapi waktu itu maksud Ibu juga baik, ingin melindungi Key agar tak ada yang menyakitinya.”

Aku mencoba membesarkan hatinya agar tak larut dalam penyesalan.

“Hanya saja, Ibu terlalu memaksakan ego. Kalau saja waktu itu Ibu tidak merahasiakan Ayahnya, mungkin dia tak merasa minder. Beberapa orang pun mencibirnya. Key tak pernah cerita. Tapi melihat kenyataan ini sekarang, hati Ibu rasanya teriris.”

Aku paham betul bagaimana perasaannya ketika itu.

Meski sesekali air matanya masih menetes, Ibu tetap menemaniku makan siang.

“Seharusnya Ibu memberi peluang agar Key mengenal dan mendapat kasih sayang Ayahnya.” 

“Nak, Ibu tidak tahu bagaimana kedekatanmu dengan Key. Tapi setiap kali dia telepon, selalu ada bercerita tentang kalian. Dan itu tidak pernah terjadi sebelum-sebelumnya. Kalian baik-baik ya.” Sambungnya lirih.

Sejak saat itu, meski tak mengunjunginya, aku juga sesekali menelepon Ibu menanyakan keadaannya. Aku juga masih mengingat dengan jelas, cerita Key tentang Ayah. (Baca di Sini)


Jadilah sore itu Aku, Key dan Ibu makan bersama.

“Ibu kenapa nggak cerita, kalau Mas sudah pernah makan di sini?” tanya Key.

“Aku yang memintanya. Nanti kamu kepikiran.”

“Justru kalau aku tahu, Mas sudah ke sini, aku nggak kepikiran.”

Ibu hanya senyum-senyum. Mungkin karena kami seakrab ini.

“Ibu juga kok tahu makanan kesukaan, Mas? Aku saja belum tahu.”

“Aku juga yang kabari Ibu kalau mau ke sini. Terus Ibu nanya mau dimasakin apa? Jadinya request,” jawabku.

Aku sudah banyak melihat kebahagiaan. Tapi tak seperti saat itu. Bahkan, ketika aku mengajak Key dan Ibu keluar untuk jalan pun mereka enggan.

“Mas, aku tak akan bisa selalu seperti ini. Berada di rumah ini, bersama Ibu adalah kemewahan yang tak bisa diganti dengan apapun.” Kata Key waktu itu.

“Bukannya kamu bisa meminta untuk terbang ke Malang lagi?” tanyaku.

“Dih enaknya kalau bisa begitu. Ya nggak bisa dong. Semua rute penerbangan untuk pramugari itu sudah ditentukan selama satu bulan. Dan nggak bisa request terbang ke mana gitu. Memang sih setiap hari ada jadwal yang situasional tergantung kebutuhan airlines, tapi secara umum sudah dalam jadwal bulanan. Kalau izin boleh, misal izin karena sakit atau menikah,” jawabnya.

“Jadi kapan kamu izin menikah?”

“Sometimes all you need is a little splash of colour. Berjanjilah tetap di sini.” pintanya.

“Kita keluar sebentar yuk. Sebentar saja.”

“Ke mana sih?”

Malam itu aku mengajak Key ke La Aquanos. Satu jam saja, setidaknya perjalanan ini akan lebih warna.



Kisanak, terkadang perempuan hanya butuh waktu sejenak. Tunggulah.