ENAM bulan sudah aku dan Key berjauhan. Dia kerja seperti biasa di Malang dan aku dipindah oleh kantor ke seberang pulau.

Pagi tadi, jam setengah enam, tak seperti biasanya, tiba-tiba Key mengirim fotonya yang masih selimutan. Kucel tapi cantik.

“Pagiiii” tulismu.

Dengan mata yang masih agak pedih karena baru tidur 4 jam aku membalasnya.

“Pagi, Key”

Taruh handphone dan tarik selimut lagi.

Tak lama terdengar notifikasi pesan. Aku yakin itu kamu, tapi aku memilih tetap memejamkan mataku.

Terdengar notifikasi lagi, satu, dua, tiga dan akhirnya telepon berdering.

“Iya, Key…” masih males sebenarnya buat angkat telepon.

“Kamu nggak rindu gitu. Cuma bales pagi doang,” hmmm pagi-pagi bakal dapat kuliah 2 SKS nih.

“Kangen Key. Tapi kamu ngirimin fotonya jangan sekarang. Mataku belum waras.”

“Jadi kalau matanya nggak waras lihatnya gimana?”

“Kamu kelihatan cantik, Key.”

“Ooo jadi kalau waras nggak cantik gitu?”

“Kamu itu, mau aku waras atau nggak waras sama saja. Tetap cantik dan memesona buatku. Alovyu.”

Mendengar aku bilang begitu, kamu malah cekikikan.

“Gombal! Eh Mas, serius nih. Aku mau beli tustel. Aku pengen kalau libur, jalan dan foto-fotoin tempat-tempat kita sama-sama kemarin,” ah sweetnya pacarku ini.

“Terus kamu mau beli kamera yang gimana?”

“Ya kamera DSLR yang bagus dong, tapi yang murah.” hmmm begini nih yang bikin orang mikir keras.

“Ya sudah nanti aku cari dulu di toko online, nanti dikirim linknya. Sudah siang ini mau mandi,” kataku.

“Ikut, Mas.”

“Ikut ke mana?”

“Ikut mandi hihihi,” tawamu membuatku semakin rindu.


Perihal kamera memang terkadang membuat kita harus jeli mencari pilihan. Apalagi maunya mbak pacar ini kamera DSLR murah.

Sebelum mandi, aku sempatkan browsing sana-sini sebentar.

Kali ini pilihanku sudah mantap, aku mengirimkan link toko online untuk Key dan memintanya memilih sendiri. Ada banyak pilihan kamera di sana, dengan harga lebih murah.

Aku sendiri bingung kenapa Key memilih harus membeli kamera DSLR, apa tidak cukup menggunakan handphone saja.


Sebelum ke kantor, aku sempat mampir di rumah Paklik Wiguno, dan menanyakan perihal ini.

Menurutnya, perempuan itu mau serba detil. Bahkan kenangan pun disimpannya sangat rapi.

“Kamu kudu bersyukur. Dia mau datang lagi ke tempat-tempat yang pernah kalian datangi dan mengambil fotonya,” katanya.

“Kenapa, Lik?” tanyaku.

“Dia menempatkanmu dalam ruang-ruang terbaik di hatinya. Sudah sana berangkat, nanti telat!”

Kini aku paham apa alasan Key memilih kamera DSLR (Digital Single Lens Reflex). Kamera jenis ini memang memiliki sensor gambar yang lebih besar, pilihan lensa yang sangat banyak dengan kualitas lensa lebih baik.

Belum lagi ketika kita membutuhkan untuk membidik momen-momen yang cepat. Kamera DSLR dapat diandalkan karena tidak ada perlambatan pengambilan gambar atau shutter lag. Zoom dan autofokus serta fitur manual yang lengkap.

Selain itu pada kondisi-kondisi tertentu, kita bisa menambahkan eksternal flash untuk menambah pencahayaan.


“Mas, jadi beli di blibli.com saja nih?”

“Iya, Key. Kan banyak pilihannya di sana. Mau merk apa saja kan ada,”

“Baiklah, tapi kamu bayarin setengahnya nanti ya?”

“Wew. Siapa yang butuh?”

“Iya iya. Tapi, Mas janji. Tahun depan kita ke tempat-tempat yang belum aku fotoin. Berdua. Oke?”

Aku bisa apa. Menolak permintaanmu adalah ketidakmampuanku, Key.


Selamat, Senin. Tidakkah Kisanak ingin mengabadikan kebersamaan?