“Halo, Key. Kok nangis? Kamu sakit? Aku salah?”

“Enggak sakit dan enggak ada yang salah,” jawabmu masih tersedu.


Key memang suka begitu, terkadang sebelum tidur, Ia menyempatkan buka aplikasi di smartphone untuk menonton drama korea.

Tapi dulu, pertama kali terjadi, aku dibuat bingung. Begitu telepon, langsung mendengarnya menangis tersedu-sedu. Aku sempat mikir, jangan-jangan sedang sakit, atau disakiti atau aku salah.

Tapi ternyata.

“Ini drama korea sedih banget, Mas…”

Yasalam!

Kisanak! Kalau temanmu, pacarmu, tetanggamu bersedih sampai menangis gara-gara nonton drama korea atau film, apa yang bisa kamu lakukan?

Nggak ada. Iya, nggak ada!

Kita tidak bisa memberi harapan bahwa esok, nasib tokoh di film atau drama itu bakal membaik, bakal berubah, atau tak mengharukan lagi.

Semuanya tergantung sutradara, ferguso!

“Emang ceritanya gimana, Key?”

Iya palingan cuma bisa nanya-nanya begitu saja. Dan jawabannya.

“Susah buat diceritain. Panjang. Kamu nonton sendiri saja.”

“Emang judulnya apa?”

Kalau tidak salah, waktu itu dia menyebut judulnya; My Girlfriend Is a Gu Mi-ho.

“Iya nanti aku nonton sendiri. Kamu sudah selesai nontonnya?”

“Sudah, Mas. Hiks…”

“Masih sedih?”

“Masiiih…” katanya manja.

“Ya sudah, aku tutup teleponnya ya?”

“Ya jangan…”

Aku seringkali menertawakannya. Aku tidak tahu, bagaimana bisa seorang pramugari yang diberi pendidikan keras sepertinya, bisa se-melankolis itu.

Berjalannya tegap, wajahnya cantik, matanya selalu berbinar dengan tatapan yang teduh, tapi kalau nonton film bisa menangis tersedu-sedu.

Padahal Key pernah cerita, pendidikan untuk menjadi seorang pramugari Lion Air di Angkasa Training Center (ATC) tidak main-main. Awak kabin wajib menjalani berbagai pelatihan pertolongan pertama, penanganan kondisi darurat dan berbagai kondisi lain yang mungkin terjadi.

Semuanya berat dan harus lulus.

Wet Drill Training menjadi salah satu materi wajib latihan para calon awak kabin Lion Air.


“Aku mau nonton film india. Mas, jangan ganggu.” suatu malam dalam pesannya di WhatsApp.

“Ini linknya. Mas nonton juga, nanti menurut kamu gimana!” katanya lagi.

“Iya aku nonton.” balasku.

Sesekali Key menyebalkan, tapi setiap saat aku menyukai “kekacauan” yang dibuatnya

Dan aku menonton seperti permintaannya.

Fire Drill latihan yang wajib bagi para calon awak kabin yang ada di Angkasa Training Center (ATC) Lion Air.


“Key,”

“Iya, Mas.”

“Boleh cerita?”

“Kapan aku melarangmu?”

“Seminggu yang lalu aku makan di La Aquanos.”

Aku sempat ragu untuk melanjutkan cerita ini.

“Iya terus? Kamu mau cerita kalau makanan di sana enak? Atau di sana kenalan sama vokalisnya Crescendo?” Dia mulai menebak-nebak.

“Jadi gini. Aku kan duduk sendiri, sementara semua meja lainnya sudah penuh. Ada cewe baru datang. Dia kebingungan nyari tempat duduk. Akhirnya aku tawarkan duduk samaku.”

Sampai di situ Key diam saja.

“Key?”

“Iya terusin aja,” katanya dingin.

“Kami kenalan. Namanya Putri, bukan orang Malang. Dia cuma kuliah di sini dan… “

“Dan sekarang sudah punya nomer WA-nya kan?” tiba-tiba dia memotong ceritaku.

“Bukan begitu. Kamu denger ceritaku sampai utuh biar paham.”

“Iyaaa”

“Setelah kenalan. Karena tidak enak cuma diam, padahal semeja, akhirnya aku nanya-nanya. Dia kuliah di mana gitu. Terus nggak tahu kenapa dia sampai cerita soal pacarnya yang baru saja mutusin dan dia minta nomer WA-ku. Aku nggak enak saja, nanti dikira sombong. Ya aku kasih saja. Nah setelah itu dia cerita-cerita di whatsapp, sedih gitu. Aku sih hanya bisa kasih saran untuk tetap tegar saja.” sampai di situ aku berhenti sebentar.

“Sekarang masih suka whatsapp-an?” sambung Key.

“Dua hari setelah itu, aku ke La Aquanos lagi. Nggak janjian. Niat cuma makan sambil lihat live music. Nah ternyata ada Putri itu lagi sama teman-temannya. Kelihatan ceria, biasa saja. Aku sih cuek saja, sampai akhirnya dia melihatku. Datang mendekat cuma nanya kabar dan gabung lagi dengan teman-temannya. Nah kemarin, dia whatsapp aku lagi, cerita sedih-sedih, ngajak ketemu. Tapi aku nggak mau, jadi kutolak halus. Aku bilang, sedang ada kerjaan sampai lembur beberapa hari.”

“Kenapa ditolak, cakep kan?” tanyanya.

Aku tahu pertanyaan itu sebenarnya jealous. Intonasinya tak biasa.

“Key, menurut kamu, aku salah atau tidak?”

“Jadi kamu minta pendapat nih?” Mulai mancing-mancing tapi aku diam saja, hanya bilang he’em.

“Mas, aku nggak mau panjang-panjang. Aku cuma mau bilang. Cari perempuan itu, bukan yang hanya pandai meminjam pundak lelaki. Tapi juga harus pandai merawat pundak itu.” Katanya singkat.


Ah betapa aku seberuntung ini mengenalmu, Key. Pramugari penyuka drama korea dan film bollywood.

Gara-gara itu, aku sesekali memutar soundtrack film bollywood yang pernah membuatnya menangis haru.


Kisanak, terkadang perempuan begitu melankolis, tapi terkadang mereka juga sangat logis.