They say you only fall in love once


AC yang terlalu dingin membangunkanku. Dengan mata yang masih berat aku coba mencari-cari remote. Setelah menaikkan suhunya, aku kembali berbaring. Sementara Friska masih terlihat begitu nyenyak.

Aku meraih handphone dan melihat jam, rupanya sudah hampir jam enam pagi. Pantas saja, ada sesuatu yang sudah mulai bergejolak.

Ya, setiap pagi, wajib buat buang air besar. Terkadang jika sedang libur, sudah niat bangun di atas jam tujuh. Tapi apa daya, lewat sedikit dari jam enam, perut sudah mules.

Aku beranjak ke kamar mandi, membuang sisa-sisa mesiu.


“Pagi, kok sudah bangun?”

Begitu keluar kamar mandi, aku sudah melihat Friska menyeduh dua cangkir kopi.

“Pagi, sudah dong. Nih kopimu.”

Katanya sambil menyodorkan secangkir kopi padaku.

Aku menerimanya dan berjalan menuju jendela. Kubuka tirai, rupanya mendung tipis sejak semalam tumpah pagi itu, Malang sudah gerimis.

“Ji, apa aku pulang ke Jakarta hari ini saja ya?” Kata Friska.

“Kamu kan masih punya libur sehari lagi. Besok saja kenapa? Kamu nggak pengen ke Bromo?”

“Aku mau menyelesaikan masalah ini cepet-cepet. Biar nggak kepikiran terus. Lagi pula aku masih bisa ke sini kapan pun aku mau.” tegasnya.

“Kamu yakin?”

“Iya aku yakin sekarang waktunya. Lagipula masalah ini aku yang menimbulkannya. Maka harus aku selesaikan.”

Friska berhenti dan menyeruput kopinya.

“Bagaimana menurutmu kalau aku akhiri saja semuanya?”

“Maksudmu?” tanyaku tak mengerti.

“Sepertinya harus begitu. Aku sudahi saja affairku dengan teman sekantor itu. Apapun alasannya, ini tetap salah, Ji.”

“Syukurlah, kamu sudah waras.”

“Heh. Aku gila juga bukan karena keinginan sendiri. Hahahah…”

Aku bersyukur, bisa melihat Friska kembali tertawa lepas, jauh lebih baik dari kemarin.

“Waktu izin sehari besok mau aku pakai buat menyelesaikan semuanya. Dengan begitu aku bisa kerja dengan tenang.”

“Itu lebih baik. Mau sekarang? Atau penerbangan siang nanti?”

Friska mulai membuka aplikasi ticketing.

“Sepertinya ambil Batik Air jam 12 saja, biar tak terburu-buru.” katanya.

“Oke. Mau mandi dulu atau sarapan?”

“Sarapan dulu saja yuk. Nanti mandinya, masih males aku.”


Kami menghabiskan sisa waktu kebersamaan dengan lebih banyak makan dan berbincang-bincang.

Satu hal yang menurutku menarik, Friska berpikir untuk hamil.

Meski sebenarnya ini sebuah “perjudian”, tapi ini mungkin akan membuat hubungan Friska dan suaminya membaik.

“Tapi, Ji. Kalau dia tidak berubah bagaimana?” tanyamu ketika itu.

“Setidaknya itu bukan salah anak kalian. Kamu sudah mencoba memperbaiki semua dan bersabar. Aku berdoa mudah-mudahan suamimu nantinya mulai berpikir dan memilih untuk bersamamu.”

Aku mencoba terus menyemangatinya. Sebab aku tahu, jauh di lubuk hati, Friska sangat mencintai suaminya.


Perasaanku sebenarnya campur aduk ketika mengantarkan Friska ke Bandara.

Bagaimana tidak, dia adalah teman terbaikku, orang yang selalu meminta pendapatku, dia perempuan yang tak pernah menyembunyikan sedikitpun rahasia dariku.

Aku takut jika nanti sampai Jakarta, ketika ingin menyelesaikan masalah justru dicacimaki dan mendapat perlakuan tak mengenakkan.

“Nanti, sampai Jakarta jangan lupa kabari aku. Kalau sudah fix ketemuan sama affairmu dan istrinya juga kabari aku.”

“Iya, tenang saja. Kamu kan tahu aku wonder woman.”

Katanya sambil mengangkat lengan.


Pukul 11.00 WIB kami tiba di bandara, setelah mencetak e-ticket, Friska memilih tak langsung check in. Hingga setengah jam kemudian terdengar pengumuman, keberangkatan Batik Air ditunda paling lama satu jam lantaran cuaca buruk.

“Kok bisa cuaca buruk? Di sini kan sudah cerah begini?”

“Bisa jadi di atas langit kota lain, yang nanti akan dilewati pesawat dari sini. Jadi nggak mesti di sini.” Kataku menjelaskan.

“Okelah. Berarti nambah waktu check in. Untung aku belum masuk, bisa sebel aku sendirian di dalam,” katanya.


Sekitar satu jam menunggu, akhirnya Friska memutuskan masuk ke ruang tunggu.

Dan ketika baru beranjak dari tempat duduk untuk mengantarkannya masuk ke pintu masuk, tetiba teleponku berdering.

“Lagi di mana, Mas?” Suara merdu Key selalu khas dan membuatku tersenyum.

“Ini di bandara, antar temenku kemarin itu, dia mau balik ke Jakarta.” jawabku.

“Boleh peluk?”

“Kamu ini ada-ada saja. Lagi off apa? Kok bisa telepon? Bentar ya, nanti kutelepon balik, aku antar temen sampai pintu masuk dulu.” Kataku lagi.

“Boleh peluk enggak?”

“Boleh.” jawabku sekenanya.

Dan ketika kembali melangkahkan kaki, aku dikejutkan sepasang tangan yang merangkulku dari belakang.

“Aku masih ingat perempuan yang sembarangan memelukku dengan pelukan sehangat ini.” Kataku tanpa melihatnya.

Aku memutar badan dan melihat Key cemberut dengan cubitannya.

“Kok kamu nggak kabar-kabar kalau penerbangan ke Malang?” Tanyaku.

“Sengaja. Tadinya aku mau tiba-tiba minta jemput. Tapi pas keluar, aku lihat ada laki-laki yang sepertinya kukenal sedang bersama seorang perempuan.”

Di ujung kata-kata dia memelankan suara, takut didengar Friska.

Aku langsung tanggap dan kukenalkan Key pada Friska.

“Ini Friska, temen kecilku, yang kemarin aku ceritakan sedang liburan ke Malang. Dan Friska, ini Key, dia…”

“Perempuan yang sudah menyandera hatimu kan?”

Friska memotong kata-kataku sembari mengulurkan tangannya pada Key.

Begitulah. Friska selalu lebih dewasa, dia pandai memulai komunikasi dengan orang lain.

“Oh ya, Ji. Aku masuk ke dalam ya. Mau check in, sepertinya tidak ada penundaan lagi.”

Aku dan Key mengantar Friska hingga pintu masuk.

“Ji, kalau kamu nggak ngomong, kamu akan menyesal. Dia lebih cantik dari yang kuduga.”

Kata-kata Friska ini membuat Key senyum-senyum.


Setelah mengambil mobil di parkiran, aku menghampiri Key yang menunggu di halte. Kumasukkan kopernya ke dalam mobil, dan kami memulai perjalanan pulang.

“Kamu kenapa bisa terbang ke Malang?” tanyaku.

“Lihat ini?” Key menunjukkan SMS di handphonenya.

REV SCHED / SAT ETD 06.15 CGK-MLG-CGK-MLG RON / ETD 12.40 MLG-CGK-PKU-CGK, THX <REPLY

“Apaan ini?”

Aku tak mengerti deretan-deretan huruf kapital dan beberapa angka dalam SMS yang ditunjukkannya.

“Ini jadwal terbang yang diberikan crew scheduling untukku hari ini. Pagi tadi dimulai dari Jakarta ke Malang, balik lagi ke Jakarta, terus balik lagi ke Malang. Dan istirahat, diganti FA yang sudah istirahat sebelumnya. Besok siang pukul 12.40 aku baru terbang lagi. Dari Malang ke Jakarta terus ke Pekanbaru dan kembali ke Jakarta lagi.”

Sambil mengurai rambutnya yang dicepol, panjang lebar Key menjelaskan arti SMS yang berisi tugas terbangnya.

“Berarti hari ini kamu istirahat agak panjang?”

“Iya. Seneng nggak?” tanyanya.

“Seneng dong. Kita ke mana sekarang?”

“Ke rumah Ibu.”

“Oke.”

“Key,”

“Iya, Mas.”

“Kata orang, jatuh cinta itu hanya sekali. But that can’t be true. Every time I look at you, I fall in love all over again,” Kataku.

Meski diam dan tak menjawab, dia tersenyum melihatku. Meraih tangan kiriku. Menggenggam dan menciumnya.

“Bersabarlah.” Genggaman tangannya kian erat.


Di radio perlahan mengalun “Aku Rindu – Dorkas” 

Pada getar rasa cinta, pada hangat pelukannya, pada setiap rasa yang indah 
Pertemukan kepadaku, di mana tersimpan jodohku, akan kucintainya sepanjang hidupku
…..


Kisanak, rawat cintamu. Jatuh cintalah berkali-kali. Pada orang yang sama.