The first time you touched me, I knew I was born to be yours.

MEROKOK sebetulnya bukan rutinitas kaum lelaki saja. Perempuan juga boleh, siapa yang nggak bolehin? Ini hanya soal nilai-nilai sosial saja.

Begitu juga ketika Key baru tiga hari mencoba merokok. Katanya, kadang suka sepi, bingung mau ngapain.

Hanya saja, setelah peristiwa di Aquanos, dia tak jadi melanjutkan ritual merokoknya.

Aku memahaminya. Terkadang beberapa kali dia sering teringat almarhum Ayahnya. Pertemuan pertama dan terakhir membuatnya merasa sangat berat.

Di sisi lain, dia pernah bilang;

“Apapun yang terjadi denganku, penumpang selalu aku dahulukan, Mas. Mereka adalah “upah” terbesarku. Membuat mereka tetap nyaman, membuat mereka selamat dalam penerbangan adalah prioritas.”


Soal rokok, katanya rokok itu rasanya asam, bikin perut suka perih.

“Sudah tahu sekarang? Masih mau diterusin?” tanyaku ketika mengantarkannya pulang ke rumah keduanya.

“Tapi Mas ingat janji semalam.”

“Bukannya kamu belum menjawab?”

“Pertanyaan yang mana?”

“Kamu sayang nggak sih sama, Mas? Kamu menerima permintaanku semalam?” tanyaku.

“Pertanyaan yang tak membutuhkan jawaban.” Katanya.

Aku diam saja, menerka-nerka sendiri. Sementara dia mulai membuka dashboard mobil dan menemukan dua pouch, yang satu berwarna hitam dan satu lagi berwarna merah.


“Ini apa Mas?”

“Buka saja.”

Dia membuka pouch yang keduanya berisi earbud dengan merk berbeda dan karakter output suara yang berbeda pula.

“Headset gini. Pake pouch. Bagus ya. Buat aku satu ya, Mas?”

“Memangnya kamu suka dengan musik?”

“Ya suka, buat nonton film juga.” katamu tertawa.

“Kamu cobain saja. Yang pouch hitam itu isinya earbud sabia 5, yang pakai case aluminium merah itu earbud duotres 18.5. Kalau aku suka dua-duanya, cuma cara tuning equalizernya yang berbeda.” kataku menjelaskan.

Key memasang sabia di telinga, menancapkan jack ke iPhone-nya dan memutar beberapa lagu.

Kepalanya mengangguk-angguk dan senyum-senyum sendiri.

“Kok bisa enak gini. Bass-nya kedengaran kayak pakai speaker aktif. Aku ndeso ya, baru tahu ada ginian hahaha,” katanya sambil tertawa.

Lalu dia mulai membuka pouch merah.

Harus aku akui, case milik duotres 18.5 ini demikian premium.

Aluminium merah maroon dengan embos huruf A, logo Abnormal sebagai produsennya mendominasi bagian atas. Sangat cantik.

Di dalamnya, selain earbud, ada juga 3 pasang foam, karet dan silica gel.

Earbudnya sendiri berwarna hitam dengan finishing rapi ditambah logo Abnormal berwarna emas, demikian juga warga emas pada tulisan R/L yang membedakan antara kanan dan kiri.

Sedangkan suara bass yang dihasilkan earbud ini lebih sedap, lebih bulat dan terasa lebih empuk. Bahkan, ketika dengan setting equalizer yang sama, pada beberapa merk lain sudah keteteran, namun duotres masih sanggup menghasilkan bass yang tak mbleber ke mana-mana.

Meski treble lebih cring namun vokal yang terlalu maju menurutku membuat setting equalizer menjadi penting.

Untuk soundstage, aku lebih suka sabia.

“Mas mau kasih aku yang mana?”

“Kamu suka yang mana?” tanyaku.

“Yang case-nya hitam buat aku ya? Namanya apa tadi?”

“Itu sabia. Kalau buat kamu cocok, nggak perlu setting ini itu sudah enak dan kalau mendengar lagu serasa di sebuah konser. Lagian ada mic-nya juga, jadi bisa untuk telepon.” kataku.


Sesampainya di parkiran Bandara Abdul Rachman Saleh, karena masih banyak waktu, kami tak langsung turun dan memilih berbincang.

Di sana Key pernah bilang, langit adalah rumah kedua. Hidupnya kini lebih banyak dihabiskan di angkasa. Bercengkrama dengan awan yang terkadang sangat bersahabat, namun sesekali menunjukkan amarahnya.

“Di angkasa, terkadang kami harus membujuk awan agar membaik, namun terkadang kami tak dapat memaksanya dan lebih baik menghindar.” katanya suatu hari.

“Kenapa pilih Lion Air? Bukannya banyak yang meragukan?” Aku pernah menanyakan ini padanya.

“Mas, siapa sih yang mau ada apa-apa di atas sana? Aku juga maunya tetep bisa ketemu Ibu, ketemu kamu. Makanya standar keselamatan tetap dijalankan maksimal. Semuanya sudah diperiksa sedemikian rupa setiap kali akan terbang. Gini deh, kamu janjian saja sama Mas Danang biar bisa dipertemukan dengan pilot, sekalian ke Lion Facility Center.”

“Iya, aku juga pengen tahu sebenarnya. Nanti kalau ke Jakarta aku hubungi dia.” jawabku.

“Kamu bakal nunggu buat ketemu aku lagi atau nggak, Mas?” tanyanya.

“The first time you touched me, I knew I was born to be yours.” jawabku

“Dan aku akan pulang ke rumah, di sini.” katanya menunjuk jantungku.

Tangan lembutnya lalu memasang satu sisi earbud di telingaku.

“Coba denger ini.”


Lembut mengalun suara Bryce Adam – Elegi Esok Pagi.


Barangkali di tengah telaga, ada tersisa butiran cinta
Dan semoga kerinduan ini, bukan jadi mimpi di atas mimpi


Kisanak, di mana rumah keduamu?