SETELAH tiga hari kepulanganku ke Malang, aku menghubungi Key. Aku minta maaf baru bisa sempat mengabarinya.

Semuanya padat, pabrik sedang mengejar target yang tertinggal lantaran mesin produksi sempat macet.

Ditambah sempat ada aksi mogok karyawan gara-gara ada yang membuat isu, perusahaan akan berhenti membayarkan iuran Jamsostek (sekarang BPJS Ketenagakerjaan).

Ada-ada saja, tapi mendekati akhir bulan semuanya selesai dengan baik. Dan aku punya banyak waktu luang.

“Hai, Key.” whatsapp sent.

Lama sekali tak terkirim. Satu jam, kulihat masih centang satu. Dua jam, masih juga centang satu. Tiga jam kemudian, masih juga centang satu.

Aku sempat berpikir, apa gadis itu ganti nomor?

Setelah menunggu tiga setengah jam, akhirnya notifikasi pesan dari Key masuk.

“Iya, Mas. Ini masih di jalan mau ke hotel buat istirahat. Tadi on duty. Sudah lama ya WA-nya?”

Ah perempuan ini menjadi sebegini intimnya denganku.

“Tiga jam nunggunya. Dan itu lama. Yasudah, nanti setelah bebersih, telepon Ibu, trus kamu kabari aku ya?”


“Mas. Lagi apa?”

Suara di seberang telepon ini ada setelah Key whatsapp, sudah beberes, makan dan siap istirahat.

“Lagi nunggu dikabari.”

“Serius nunggu? Nanti ketiduran? Mas, sudah ke Sawojajar?”

“Belum. Sabtu ya aku ke sana. Ohya, Ibu sukanya buah atau kue atau apa?”

“Ibu nggak begitu suka kue. Tapi kalau Mas mau bawa buah, bawain jambu merah saja. Ibu suka bikin jus jambu merah. Katanya biar tetap sehat.”

Percakapan kami tak lama. Aku memintanya segera istirahat saja. Apalagi jam setengah 5 pagi harus sudah siap untuk penerbangan pagi.


Hari– hari pun begitu, terkadang dia bercerita tentang penumpang yang ngedumel. Penumpang yang tidak mau tas segede gabannya dimasukkan dalam bagasi penyimpanan di atas kepala.

Di pekan yang sama, di hari Sabtu aku mengunjungi Ibu-nya Key. Kebetulan, Kelurahan Sawojajar tak jauh dari tempatku mengontrak, maka setelah berputar-putar sebentar saja, aku sudah menemukannya.

Rumahnya tidak terlalu besar. Tapi untuk ukuran seorang Ibu yang membesarkan anaknya sendirian, rumah ini cukup besar. Ada ruko berukuran sedang di sampingnya. Tepatnya dijadikan warung manisan.

Setelah memperkenalkan diri, aku bermaksud menunaikan janjiku pada Key, untuk mengajak jalan-jalan. Tapi Ibu memilih lain kali saja, lantaran tak jauh dari rumah sedang ada hajatan. Jadi, Ibu akan bantu-bantu masak di sana.


Hingga suatu hari.

“Mas, sebentar lagi aku pulang. Kamu masih mau kan duduk di sampingku?” Tetiba pertanyaannya membuatku khawatir.

“Key?”

“Iya, aku tahu ini keputusan besar? Tapi aku akan tetap pulang.”

Bukankah kamu ingin terus terbang?”

“Tapi bukankah seluruh kepergian untuk pulang? Aku kangen Ibu,” katanya pelan.

“Setelah selesai kontrak. Kamu boleh pulang. Kalau pun tak ingin melanjutkan kontrak, itu pilihanmu.”

“Aku sudah memikirkannya baik-baik, Mas. Kamu tunggu aku, jangan pindah dulu.” pintanya.

“Aku tidak pernah pergi, Key. Kamu yang sulit menetap. Kamu ke mana-mana hehehe.”

“Mas ini bisa saja. Kan karena ikut pesawat. Ohya, waktu kupeluk, Mas ada kecium parfumku nggak?” pertanyaan yang aneh.

“Iya. Kenapa?”

“Besok, Mas beli ya. B&B Kids.”

“Apa itu?” tanyaku.

“Itu parfum anak-anak. Wangi strawberry. Itu parfumku,” katanya menjelaskan.

“Key, aku ingin kamu yang membelikannya. Kamu yang sesekali menyemprotkannya. Dan aku ingin dilihat olehmu, setiap kepergian dan kepulanganku. Di rumah.”

“Mas, sejauh-jauh tujuan, pulang adalah tempat terbaik. Ngantuk nih. Tidur yuk!”


Selamat Jumat Kisanak. Benar kata Key, seindah-indahnya perjalanan & kepergian, pulang adalah kebahagiaan tanpa tandingan.