LELAKI di depanku ini sedang jatuh hati pada perempuan, single parent.

“Apa yang membuatmu jatuh cinta?” tanyaku

“Aku nggak tahu, Ji. Tapi, setiap bersamanya, aku menjadi sangat takut menyakiti perempuan. Aku merasa berdosa sebagai lelaki,” katanya.

“Hanya itu?”

“Tidak. Aku sangat menyukai setiap geraknya. Caranya tertawa, dan caranya memperlakukan dan mendidik anaknya. Betapa beruntungnya ketika anakku lahir dari seorang perempuan sepertinya,” jawabnya panjang.

“Baiklah, tapi apa dompetmu sudah cukup?”

“Untuk apa?” lelaki di depanku ini malah mlongo.

“Bukankah kau harus menjemputnya di benua lain?” kataku.

“Iya, dan aku tak punya cukup nyali untuk membawanya ke sini.”

“Berjuanglah kawan!” aku mencoba menyemangatinya.

“Aku masih menunggu sebuah aba-aba. Kalau saja dia bersedia, aku pasti bergegas menghampirinya.”


 
Sabar, Kisanak. Terkadang cinta memang demikian berat.