“Mas, kamu itu suka telat.”

“Telat gimana?”

“Ya telat datang ke pabrik, juga telat datang di kehidupanku.”

“Telat kan hanya soal waktu. Tapi, tepat rasa.”

Diajeng tertawa pelan sambil menyahut.

“Kayak lagu Fiersa Besari.”

“Mas, simpan ini baik-baik. Aku ingin hanya kita,” katamu lagi. Serius.

Aku diam saja. Tapi, aku ingin Diajeng tahu, mataku berkaca-kaca. Betapa ingin aku memeluknya erat, mengecup pipi ranumnya. Pipi yang selalu membuatku merasa lebih baik.

“Aku mengerti. Bahkan, kita tak mungkin kembali pada perjalanan itu. Tapi setidaknya, kita saling menguatkan.” jawabku bohong.

Diajeng menatapku sendu, dengan alis tebalnya yang kusuka.

Sering aku ingin berterus terang, tatapannya melambungkan rasaku.

Ketahuilah Diajeng, aku tak ingin hanya saling menguatkan. Lebih dari itu, harapku, kita saling menggenggam, berjalan berdua, duduk menunggu senja. Berdua.

“Kamu bahagia dengan rasa ini?” tanyaku.

“Aku menikmati setiap debarku. Menikmati caraku menyimpan rapat gundah ini. Setidaknya aku tahu, kita merasakan yang sama. Cukup, itu saja.”

Nafasmu menjadi panjang.

“Genggam tanganku. Jangan pergi lagi. Kamu tahu kapan masa terburukku?” tanyaku.

Diajeng hanya menggeleng.

“Saat tanpa sedikitpun pesan, kamu pergi. Sejak saat itu, aku hanya menjadi penjaga menara, menunggu kapal kembali berlabuh.”

“Maaf,” lirihnya.

“Tak ada yang salah. Aku memahami semuanya. Dan aku bahagia, kamu kembali ada.”


 


Diajeng, semua tak pernah padam.