“Mas, pergilah.”

Aku terkejut, malam itu, di bawah remang lampu tempat ngopi, Diajeng tetiba menyuruhku menjauh.

“Aku tak bisa. Kamu sudah tinggal di hatiku terlalu lama,” jawabku.

Diajeng terdiam. Tapi matanya penuh rindu.

“Kenapa menyuruhku pergi?” tanyaku.

Jemari lentiknya meraih tanganku, lalu melepaskannya lagi.

“Mas bisa nggak si menjadi biasa saja?”

“Bukankah aku selalu biasa saja?” kataku bertanya-tanya.

“Aku tak pernah bisa biasa setiap kali bertemu denganmu. Aku kikuk,” jawabnya terdengar lirih.

Aku ngikik dan kamu mencibir meski tak mampu menyembunyikan tersipumu.

“Aku nggak pernah bisa pergi, Diajeng.”

“Sepertinya, kamu harus diuyel-uyel dulu baru pergi.”

“Lakukanlah.”

Diajeng kembali terlihat tertawa lepas. Lalu berkata;

“Kan sudah. Aku uyel-uyel hatimu.”

“Tuh tahu, lalu bagaimana aku bisa pergi?”

“Begini, meski kamu pernah bilang selalu tak punya alasan untuk pergi. Aku mempersilakanmu pergi jika memang itu membuatmu merasa lebih baik,” kali ini aku serius.

“Mas…” Diajeng menyelaku.

“Pergilah. Sebab aku mencintaimu, dengan segalaku.”

* * *

Hae Diajeng, ada banyak hal yang membuat kita merasa lebih baik. Mungkin kau tidak tahu, kelebihbaikan suasanaku ketika menjadi salting bersamamu.

Aku malah ingat kata-kata yang pernah kamu sampaikan. Jauh sebelum aku – kamu menjadi kita.

“Pernah merasa banyak warna dalam hati?” tanyamu waktu itu.

“Belum,” jawabku singkat.

“Jatuh cintalah. Lalu kamu akan senyum-senyum dan salah tingkah sendiri,” saranmu seolah berpengalaman.

Aku tergelak.

Dan aku jatuh cinta. Padamu. Diajeng.



Kisanak, biarkan rindumu membuncah. Biarkan waktu kembali, lalu pecahkan celengan rindumu.