“Orangtua kalau dikasih tahu memang begitu. Ngeyel!” katanya bersungut-sungut.

Tapi aku geli dan malah tertawa.

Aku lupa, siang itu kami membahas apa. Tapi, Diajeng yang mengajakku bertemu, di kedai seberang pabrik tempat kerjaku.

Katanya rindu. Padahal aku tahu, dia sengaja datang karena cemburu. Sedang yang dicemburui tak ada apa-apa denganku.

Kisanak, perempuan memang begitu. Kalau sedang cemburu, segala cara menjadi senjata.

Tapi mungkin benar kata temanku;

Mari ke kedai. Mungkin, dengan kopi yang terseduh, dua hati bimbang bisa berteduh

Halah, opo iki!

***

“Mas, kamu masuk pabrik lagi jam berapa?” Diajeng mulai membuka kata lagi. Tapi wajahnya masih cemberut.

“Nanti, kalau kamu sudah menyuruhku. Pasti aku masuk lagi,” jawabku.

Memang harus begitu. Kalau saja kukasih batasan waktu, pasti Diajeng menuduhku tak mau bertemu.

Jadi laki-laki memang harus siap dituduh-tuduh. Padahal sudah ngomong sebenarnya, terkadang masih saja dimaknai berbeda.

Serba susah, serba salah.

Aku tahu, Diajeng sebenarnya tak punya sesuatu yang penting untuk dibahas. Hanya ingin temu. Ingin bersama. Itu saja.

Dia suka lupa, aku menginginkan hal serupa. Dia lupa, begitu pulang dari pabrik, setiba di rumah, aku ingin disambut senyum di bibir seksinya, ingin melihat kerjap-kerjap mata dengan alisnya yang tebal.

***

“Tahu nggak, Mas. Aku tak pernah tahu kenapa bisa menjadi segila ini. Terkadang aku takut, jika nantinya kamu pergi, sementara hatiku penuh olehmu.”

Diajeng memalingkan pandangannya ke gelas kopi di depannya.

“Sama. Aku pernah mengalaminya. Aku sangat takut jika nantinya semua penuh olehmu. Tapi, sekarang aku tak takut lagi. Karena semua sudah terisi kamu saja,” jawabku.

“Ohya, sebenarnya hari ini banyak yang ingin kukatakan ke Mas. Tapi cukuplah cemburuku mewakili semuanya.”

Kali ini raut wajahmu berubah serius. Tapi tiba-tiba tertawa.

“Kok ketawa?” tanyaku.

“Ini lucu, bodoh, dan membuatku bingung. Perasaanku menjadi serba aneh. Aku tak pernah seresah ini, Mas. Aku gundah. Perasaanku sesak penuh denganmu saja,” jawab Diajeng sambil tertawa lirih.

Diajeng memang suka aneh. Padahal itu sudah pernah kukatakan padanya, dua bulan setelah kami bertemu.

Saat itu aku sudah mengaguminya. Perempuan cerdas dengan pipi ranum yang selalu menenangkanku. Perempuan ceplas-ceplos yang selalu membuatku berpikir banyak hal. Perempuan yang wanginya membuatku senyum-senyum sendiri.

“Diajeng, entah bagaimana awalnya, tapi kamu itu pemenang. Jadi, tak perlu ada yang dikhawatirkan. Kamu sudah tahu semua. Aku ingin kita dalam rumah yang sama,” jawabku serius.

“Baiklah. Jadi kalau kita sudah berdua, kamu mau apa?” tanyanya.

“Aku ingin memelukmu, erat. Dan tak akan kulepas (lagi). Sebab kepergianmu tak pernah tuntas, selalu menyisakan rindu dan bayang. Aku yakin semesta menyemogakan kita.”

Kali ini aku benar-benar ingin benar-benar berada dalam dadanya, untuk tahu seluruh isi hatinya.

“Mas, kamu kerja lagi gih. Aku sudah harus ke kantor lagi,” katamu berkemas, lalu diam mendongak, melihatku yang akan segera bergegas.

Aku tahu. Aku juga rindu.

“Iya,” kataku singkat dan segera mencium kepalanya.



Kisanak, ketahuilah, rindu, jika berjarak ya begini, merona tapi merana.
Dan kisanak harus tahu, mengapa tulisan ini sangat random? Sebab, rindu itu satu-satunya hal baik yang tak bisa diajak berdamai.