“Masss,”
“Hemmm,”
“Kamu sudah makan?”
“Belum, nanti dikit lagi kerjanya,”
“Kamu ndang makano,”
“Iyaaa, selesai ini makan,”
“I Love You,”
“Kamu juga makano yang.”
“Iya. Alovyu banyakbanyak.”


DIAJENG, makan siang kali ini, kamu tak lagi di sini.

Padahal, dulu kamu yang selalu memintaku untuk tak mengambil sendok sendiri.

“Itu bagianku. Kamu duduk manis,” begitu katamu.

Aku ingat bagaimana kamu seringkali mengkhawatirkan asam lambungku yang terkadang secara tiba-tiba naik.

Lalu,

Bahkan, Kamu selalu uring-uringan begitu tahu di laci meja kerjaku tak ada lagi biskuit.

“Ngopi si ngopi, tapi kamu juga harus tahu diri! Lambungmu tak selamanya kuat. Aku nggak mau tahu, lacimu besok harus ada biskuit!”

Aku selalu ingat omelanmu, sembari memberikan kantung plastik yang penuh berisi biskuit.

Entahlah. Meski kamu begitu ribet, tapi aku menyukainya.

Lalu rindu ketika sadar, kamu tak akan pernah lagi ada di sini.



Diajeng, apa hujanmu masih seindah dulu?